Cara membuktikan adanya TUHAN

Ikha 1356 HS / Oktober 1977 No.10 – Th XLVI, hal.27-36

Oleh Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra – Khalifatul Masih II

Alih bahasa : Sukri Barmawi

Titik tolak dalam masalah agama adalah persoalan mengenai “ADANYA TUHAN”.  Tambahan pula persoalan itu merupakan dasar pokok bagi segala macam faham tentang akhlak atau budi pekerti, sebab kesusilaan membahas perkara “benar” atau “salah”, yang tidak akan timbul kecuali jika telah ditetapkan dahulu dan diperinci “tujuan” kehidupan manusia.  Memang jelas dan nyata, bahwa manusia mulai berangkat merantau tanpa gagasan mengenai “tujuan yang ingin dicapai”, tidak mungkin ada penilaian “benar” atau “salah”, “baik” atau “buruk” tentang jalan yang ditempuh.

Seandainya manusia dan alam semesta hanya merupakan gejala secara kebetulan saja atau akibat dari pengaruh kekuatan-kekuatan sembarangan tanpa adanya perhubungan satu sama lain, maka tanpa guna dan tolol untuk mengenakan kepada kehidupan itu suatu tujuan, yang dalam penciptaan dan keadaan susunannya sama sekali tiada hubungannya sebagai penunjukan, perintah atau pengarahan.  Dalam keadaan demikian tentunya tiada seorangpun berhak untuk menetapkan sesuatu tujuan apalagi membebani orang-orang lain dengan khayalan.

Hukum Rimba

Setiap pribadi selayaknya dibiarkan bebas “mutlak” untuk hidup menurut caranya sendiri atau dorongan hati dan otaknya pada saatnya.

Jika seseorang mencabik-cabik saudaranya sendiri dan melahap dagingnya atau ia memotong segumpal daging tubuhnya sendiri  untuk diberikan kepada si lapar, sama sama sekali tiada perbedaan nilai dari dua perbuatan itu.  Yang satu sama baiknya atau sama buruknya dengan yang lain dan sungguh-sungguh tidak ada batas pemisah di antara keduanya.  Hukum rimba, yang sama sekali bukan hukum dan berarti tiada hukum sama-sekali, segala sesuatu berjalan menurut kehendak masing-masing, itulah akibat yang wajar dari faham demikian itu.

Maka kesimpulan dari analisa itu ialah, bahwa kehidupan itu arah tujuannya memang benar-benar tidak ada, kecuali bila kita menerima faham bahwa penciptaan alam semesta itu hasil dari suatu “Pencipta Yang Maha Bijaksana dengan tujuan yang tertentu”.  Dalam bahasa indah Al-Qur’an Suci itu berbunyi:

“Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi dan dalam pergantian malam dan siang ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, ialah mereka yang mengingat Allah ketika berdiri dan waktu duduk dan pada saat berbaring pada rusuknya dan merenungkan penciptaan seluruh langit dan bumi.  Ya Tuhan kami. Tidak Engkau jadikan ini semua sia-sia.  Maha Suci Engkau; peliharalah kami dari siksaan neraka” (3:191,192).

Tersebar luasnya di seluruh dunia faham mengenai Ketuhanan Yang Maha Mulia menunjukkan pula, bahwa “ADANYA TUHAN” bukan khayalan atau dugaan.  Jika tiada pengalaman-pengalaman yang aman dan meyakinkan dan tidak ada saksi-saksi yang pasti di belakang faham dan gagasan itu, yakni pengalaman dan saksi-saksi yang tersebar di setiap zaman dan daerah permukaan bulatan bumi ini maka tidak mungkin faham itu begitu umum di terima.  Al-Qur’an Suci mengatakan: “Dan tiada suatu kaumpun yang belum pernah kedatangan seorang Pemberi peringatan di antara mereka” (35:25).

Beberapa pengikut ajaran Perbandingan Agama beranggapan bahwa faham Adanya Tuhan itu bersumber pada “rasa takut”.  Pada zaman purba begitu keterangan mereka manusia ketika masih hidup dalam gua, mulai menyembah ular dan sebagainya karena takut dan lambat laun timbullah faham “Adanya Tuhan”.  Pertama-tama para ahli filsafat tidak mendukung faham itu.  Kedua, dengan penelitian yang lebih cermat faham itu bertentangan dengan faham evolusi yang menjadi dasar faham “Adanya Tuhan” itu.

Jika manusia itu telah berkembang hingga tingkatannya sekarang sudah meliwati taraf-taraf kehidupan hewani terendah hingga yang tertinggi, maka tentunya ia telah sering menghadapi dan mengatasi dan menguasai atau membiasakannya.  Jadi bagaimana mungkin tunduk menyerah dalam ketakutan, padahal ia telah berkembang ke taraf yang lebih kuat dan kuasa dari pada taraf-taraf yang sebelumnnya.

Tambahan pula dalam rimba raya itu banyak binatang buas lainnya seperti singa dan harimau.  Jika faham “Ketuhanan” itu timbul akibat ketakutan manusia terhadap binatang-binatang yang dapat menimbulkan derita dan kebinasaan, maka dengan sendirinya manusia akan menyembah semua binatang buas itu.  Tetapi kenyataannya tidak demikian, sehingga sumber “Ketuhanan Yang Maha Kuasa’ itu terpaksa dicari pada sumber lain dari pada perasaan takut.

Sejak dari masa sederhana

Lagi pula penyelidikan dalam perbandingan agama menjurus kepada kesimpulan bahwa faham “Tuhan” Yang Maha Kuasa” itu telah ada pada kaum-kaum yang sangat sederhana di samping adanya kepercayaan dan persembahannya kepada wujud-wujud lain.  Tuhan Yang Maha Esa itu diberi nama berlainan di suku-suku yang berbedaan, tetapi faham adanya wujud Agung Yang Maha Kuasa itu memang ada pada kaum dan suku bangsa itu.  Nama Dzat itu ialah “Awona Welona” pada bangsa Mexiko, “Nyongmo” pada suku-suku liar di Afrika, “Altjira” pada penduduk asli Australia, “Unkulunkieln” pada kaum Zulu, “Nizambi” pada suku Bantu.  Faham yang ada di belakang nama-nama itu adalah sama, ialah Maha Pencipta Yang Ghaib dari seluruh alam semesta.

Jadi anggapan “Adanya Tuhan Yang Maha Esa” itu akibat atau hasil kemudian dari perkembangan peradaban tidak dapat dipertahankan lagi.  Jika faham “Adanya Tuhan Yang Maha Kuasa” itu dapat diselidiki hingga tingkatan peradaban yang jauh sebelumnya, maka tidak akan timbul persangkaan, bahwa faham itu baru kemudian datangnya.  Tambahan pula di antara kaum-kaum itu nyata adanya faham Wahyu, yang dianggap menjadi perantara  untuk memperoleh ilmu mengenai ketuhanan.

Begitu pula ada pengalaman umum yang merata, bahwa faham-faham baru yang datangnya kemudian mendesak dan menggantikan faham yang telah ada terlebih dahulu.  Maka jika penyembahan terhadap Tuhan itu timbulnya kemudian dari pada penyembahan terhadap wujud-wujud lain, maka sebagai akibatnya penyembahan kepada Tuhan itu tentunya mempunyai kedudukan yang terpenting di antara peradaban dan kebudayaan yang sederhana.

Tetapi kenyataannya tidak demikian.  Yang nyata ialah bahwa kedudukan terpenting itu dikuasai oleh penyembahan sampingan kepada binatang atau wujud lain, sedang faham ketuhanan menjadi terdesak kepada kegelapan dan kesamaran, malahan sama sekali tenggelam kedalam “bawah sadar”.  Semua itu hanya mengandung satu arti saja, ialah bahwa penyembahan terhadap wujud-wujud lain selain Tuhan adalah gejala kemunduran dan kemerosotan, sehingga akhirnya kesesatan dan kemusyrikan menjadi meraja lela sejadi-jadinya hingga datang Pemberi peringatan baru dengan membawa wahyu-wahyu baru.

Tidak ada yang mutlak “ada”

Penyelidikan ilmiah telah menegakkan fakta, bahwa diseluruh alam lahir tidak ada sesuatu yang berdiri sendiri dan mutlak “ada”, berwujud sendiri, bebas dari pengaruh wujud-wujud lain di sekitarnya.  Malahan dalam unsur-unsur sekalipun ada aksi dan reaksi, ada gerakan-gerakan yang berimbang, juga pada molekul dan atomnya.  Maka jelaslah, bahwa alam semesta yang terdiri dari benda-benda demikian, tidak dapat dianggap mengambil wujud dengan sendirinya dan tidak pula dapat dibayangkan wujud-wujud demikian dapat tetap ada tanpa bantuan dan pengawasan dari luar.

Al-Qur’an suci menarik perhatian kita kepada kebenaran itu dengan menyebut satu sifat dari Dzat yang Maha Suci, yakni Dia adalah “Samad” (Ada), artinya adanya itu tidak memerlukan bantuan dari mana juga, sedang segala sesuatu selain Dia sangat memerlukan bantuanya, pertolongannya dan jaminanNya untuk dapat berlangsung adanya.

Pula hendaknya diingat, bahwa untuk lengkap dan sempurna keadaannya, sesuatu wujud tidak mungkin digabungkan dengan sesuatu yang lain atau terpengaruh oleh perubahan-perubahan.  Jika dapat juga satu atom itu mutlak sempurna, maka tidak mungkin atom itu bergabung dengan atom lain dan menjadi unsur untuk pembentukan alam semesta yang senantiasa berubah dan bergerak, malahan tak mungkin menjadi unsur benda apapun, yang semuanya terdiri dari kumpulan atom-atom di mana setiap atomnya bebas dan tak mau berubah menjadi unsur apapun.

Begitu pula harus diperhatikan, bahwa sesuatu yang terdiri bebas dapat dikumpulkan oleh tenaga dari luar, tetapi tak dapat dijadikan satu susunan baru, satu kesatuan baru.

Teori evolusi

Teori evolusi sendiri merupakan bukti yang kuat tentang “Adanya Tuhan”.  Dalam surat Nuh kita baca: “Wahai manusia, bagaimana kamu sampai tidak mau mengerti, bahwa ada keagungan dan kebijaksanaan dalam penciptaan oleh Tuhan, padahal Dia telah membimbing kamu kepada kesempurnaan melalui beberapa tingkatan dan masa” (71:14-15).

Ayat-ayat ini menerangkan adanya dua hukum pada penciptaan manusia. Pertama, bahwa ia mencapai kesempurnaan setelah melalui suatu masa yang panjang dan terdiri dari beberapa tingkatan pertumbuhan.  Kedua, bahwa manusia tidak memperoleh bentuk wujudnya sekarang melalui perubahan-perubahan tiba-tiba dan serentak.  Perubahan yang lambat, teratur dan jitu penuh arti bijak itu dalam suatu rangkaian perubahan menunjuk kepada adanya kekuasaan pengawasan dan bimbingan ke arah tujuan yang tertentu.

Apa yang kita ketahui tentang alam semesta membawa kita kepada kesimpulan yang tidak dapat dielakkan bahwa sungguh-sungguh ada rangkaian peristiwa evolusi yang sedang berlaku, meskipun mudah dapat difahami bahwa evolusi menurut Al-Qur’an suci itu sama sekali berlainan dengan teori yang dianut oleh para pengikut Darwin.  Memang ada laksana gelombang-gelombang penciptaan dari taraf paling rendah hingga taraf yang paling tinggi.  Mula-mula penciptaan barang-barang tak bernyawa, seperti benda-benda langit dan bumi, dan kemudian penciptaan air yang mendahului segala kehidupan.

Dalam Al-Qur’an suci kita baca: “Dan Kami telah ciptakan dari air setiap wujud hidup” (Al-Anbiya, 21:30) Kemudian tumbuhlah wujud hidup permulaan dan paling rendah, yang membantu munculnya jenis-jenis yang lebih tinggi tarafnya dengan mensucikan dan memurnikan udara dan memperkaya tanah dengan zat-zat yang dimilikinya dengan melalui peristiwa kematian dan peleburan.  Ketika udara sudah cukup bersih baru muncul wujud-wujud hidup yang memerlukan udara murni bagi pernafasan.

Peristiwa-peristiwa yang sangat serasi dan penuh dengan rencana bijaksana itu menunjuk kepada adanya Maha Pencipta Yang Maha Bijaksana.  Kita tahu pula, bahwa dengan penciptaan manusia evolusi jasmani atau fisik itu telah terhenti dan mulailah berlaku evolusi alam rohani,  akal dan rasa.  Apakah artinya itu semua?  Mengapa ada perpindahan itu:  mula-mula evolusi alam jasmani dan akhirnya itu berhenti dan pindah kepada evolusi alam rohani?  Jika tidak dikemudikan oleh Dzat Yang Maha Pencipta dan Maha Bijaksana, mungkinkah ada peralihan demikian?

Rangkaian tanda

“Adanya Tuhan” dibuktikan oleh rangkaian tanda dan persaksian, yang merupakan dasar semua ilmu yang manusia miliki, yang dengan itu segala kejadian yang sangat pelik sekali pun dalam pertukaran pikiran antara manusia dipecahkan dan diputuskan persoalannya oleh badan-badan yang bersangkutan di setiap negeri.

Tidak setiap orang berpendidikan pernah merantau ke Perancis atau ke Amerika Serikat, tetapi setiap orang yang sedikit mengetahui tentang ilmu bumi, yakin bahwa negara-negara itu ada.   Manusia zaman sekarang tidak mengetahui secara terperinci sejarah dari Napoleon atau Yulius Caesar, tetapi setiap orang berpendidikan tahu dengan segala kepastian mereka itu pernah ada di dunia dan telah meninggalkan cirinya dalam sejarah.

Dalam sejarah dan ilmu bumi malahan dalam urusan ilmu pasti sekalipun ilmu yang kita miliki berdasarkan kejadian, tanda dan ciri.  Apa yang disampaikan oleh orang-orang yang terpercaya kita terima sebagai kebenaran.  Maka dengan alasan apa kita akan menolak pernyataan Zoroaster, Musa, Confusius, Budha, Isa dan Muhammad saw..?   Banyak lagi orang-orang lain seperti mereka itu dalam setiap daerah dan negeri.  Begitu luas, mereka tersebar di dunia menurut daerah dan zamannya dan semuanya menyatakan persaksian  tentang “Adanya Tuhan” yang menyampaikan firmanNya kepada mereka dan menampakkan Dzat-Nya kepada mereka.  Apa adakah orang-orang lain yang lebih mempunyai bukti kesetiaan, kejujuran terpercaya dan tanpa kepentingan pribadi dari pada mereka itu.

Sang Budha Gautama adalah seorang putera Mahkota dari negara besar dan segala keinginannnya terjamin, tetapi segala kekayaan dan kebesaran itu ditinggalkan tanpa keraguan sedikitpun ketika mendapat panggilan Tuhan.

Yesus memberikan kesaksian akan “Adanya Tuhan”, tetapi secara duniawi apakah yang diperolehnya, sehingga kita berani menolak pernyataan beliau, bahwa beliau tidak memikirkan kepentingan beliau sendiri dalam melaksanakan kehendak Tuhan?

Dan menolak pula pernyataan Muhammad Mustafa saw.., yang kemudian menjadi penguasa mutlak atas milik dan jiwa, Muhammad yang tinggal di gubuk tanah liat beratapkan daun palma, yang makanannya korma dan soweeq (tepung jawawut campur air, dan diberi gula jika ada), yang kegemarannya adalah air susu dan madu, yang menjahit sendiri sepatunya dan berpakaian lama, tambalan dan jahitan? .  Muhammad saw.. itu, yang memberikan tantangan kepada musuh-musuh beliau yang paling gigih untuk menampilkan bukti kepalsuan beliau sedikit sajapun, Muhammad itu yang dijuluki kaum Mekkah Al-Amin, si Benar, si setia, si terpercaya?  Muhammad itu, yang berkata kepada kaum beliau: “Aku tak minta apa-apa, tak minta upah atas khabar suka yang kubawa kepada kalian, sebab ganjaranku ada disisi Allah swt”

Manusia-manusia semacam itu, tokoh-tokoh di segala zaman, mereka itu semua memberikan kesaksian atas “Adanya Tuhan”.  Pantaskah kita menolak dan bersepihak, tak mau menerima pernyataan mereka itu?

Itu adalah bukti yang sangat penting dan tanda-tanda orang semacam itu tak pantas dikesampingkan begitu saja.

Dihadapkan kepada kesaksian dan tanda-tanda yang begitu kuat, seorang atheis hanya dapat membela diri dengan mengatakan; bahwa yang disebut Nabi itu hanyalah orang-orang yang berkhayal dan membohongi diri sendiri serta rohaniah kurang sehat.  Tetapi mengingat kehidupan mereka yang normal dan sehat, dan keberhasilan memadai yang mereka capai, maka tiada yang lebih mustahil dari pada anggapan bahwa tokoh-tokoh kerohanian, dengan kebenaran-kebenaran mereka yang sangat mendalam dan ternyata merupakan pembentuk bangsa-bangsa yang terkenal dan diakui oleh sejarah dan yang membuat perubahan-perubahan dalam kehidupan berjuta-juta manusia dan dapat menunjukkan ummat, adalah orang-orang yang rohaniawan bercacat.

Al-Qur’an suci mengatakan: “Apa-apa di seluruh langit dan bumi menyatakan keagungan dan kemuliaan Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana.  Dialah Yang membangkitkan di antara kaum Mekkah seorang Rasul dari antara mereka sendiri yang membacakan kepada mereka Tanda-tandaNya dan mensucikan mereka dan mengajar mereka Al-kitab dah Hikmah, meskipun mereka sebelumnya nyata-nyata ada dalam kesesatan yang nyata (Surah Jum’at: 1-2). Sungguh, orang-orang yang kurang waras otaknya tidak mungkin dapat membentuk bangsa-bangsa, juga mereka itu tak akan dapat memberi pelajaran yang berbeda dan jauh lebih maju di atas keadaan sebalum kedatangan mereka.

Penjelasan sifat

Pula kita harus ingat, bahwa dzat tanpa tubuh kasar itu tak dapat ditangkap dan disadari wujudnya oleh indera kita, yang memang dijadikan untuk benda-benda kasar.  Cara untuk mengetahui dzat tak berwujud kasar adalah berlainan.  Maka untuk mengenal Tuhan itu cara yang tepat ialah dengan meneliti penjelmaan atau penampakan Sifat-sifatNya, sebab sudah tidak ada alasan yang sehat lagi untuk menolak “Adanya Tuhan”, di mana sifat-sifa-Nya itu dapat dibuktikan dan diperagakan.  Maka disini hanya akan dikemukakan satu sifat Tuhan saja, ialah kekuasaanya.

Semua utusan Tuhan, para pendiri agama besar dan yang pada masanya mengubah dan memperbaharui dunia, adalah orang-orang yang rendah dan lemah, sehingga keberhasilan penyampaian amanat yang dibawa mereka tidak mungkin dapat tercapai, jika sukses itu harus didasarkan pada syarat-syarat kebendaan.  Pula perlawanan yang dilancarkan terhadap mereka sangat gencar, gigih, sengit dan mati-matian sehingga tidak terdapat bandingannya dalam perlawanan terhadap pemimpin lain berupa apapun.

Tambahan pula ajaran yang mereka sampaikan selamanya bertentangan dengan arus pendapat masanya masing-masing dan juga bertentangan dengan arus kecendrungan masa dari generasi baru.  Meskipun demikian semua mereka itu, dari awal mula sudah menyatakan bahwa mereka akan menang dan berhasil pada akhirnya, bahkan bagaimana caranya keunggulannya akan mengamil wujud.  Dan sejarah menjadi saksi, bahwa mereka itu sungguh-sungguh berhasil dengan cara yang telah mereka khabarkan sebelumnya.

Ambilah sebagai contoh Nabi Muhammad Mustafa saw.  Bagaimana kedudukan beliau di Mekkah? Beliau dibesarkan sebagai anak yatim piatu.  Beliau dilahirkan dalam suatu masyarakat yagn tidak memberi kesempatan untuk berbuat dan bertindak bertentangan dengan kemauan masyarakat.

Tetapi beliau menyatakan diri sebagai Utusan Tuhan dan menyampaikan khabar gaib, bahwa beliau akan mendapat sukses yang begitu gemilang, sehingga kaum Mekkah tertegun karena ajaibnya.

Bukan itu saja, tetapi beliau perinci urutan peristiwa yang akan terjadi.  Beliau menerangkan bahwa akan datang suatu ketika, di mana orang-orang Mekkah akan memaksa beliau untuk berhijrah, tetapi kemudian beliau akan kembali sebagai penakluk.  Coba pikirkan, sumber ilmu manakah diatas pengetahuan manusia yang memberikan kemampuan kepada beliau untuk memberikan khabar ghaib mengenai perisiwa-peristiwa itu yang begitu tepat dan jitu?  Kaum Mekkah agaknya tidak pernah mengusir beliau, bahkan sesungguhnya mereka itu dengan rencana pembunuhan  terhadap beliau lebih menghendaki kematian beliau ditangan mereka.  Kita mengetahui bahwa mereka itu membuat komplotan dan berusaha membunuh beliau dengan kejam, bengis dan keji.  Tetapi sungguh ajaib, beliau dengan mudah dapat lolos melewati pengepungan dan dengan selamat sampai ke Medinah.

Pula, siapakah yang dapat memberikan jaminan, bahwa orang yang sudah terusir dari kampung halamannya dan ditolak oleh kaumnya sendiri akan mendapat perlindungan dalam perantauan itu, bahwa akhirnya banyak orang mulia menganut ajaran beliau, bahwa dalam kehidupan beliau akan memperoleh kekuasaan dan kekuatan, sehingga mampu menundukkan perlawanan dan bahkan memasuki Mekkah kembali sebagai pemenang mutlak?  Hanya Tuhan Yang Maha Kuasa saja yang dapat melaksanakan semuanya itu, Tuhan yang kekuasaanya meliputi seluruh alam dengan mutlak tanpa ada batas dan hingganya.

Hendaknya diingat pula, bahwa keberhasilan Rasulullah saw.. dan Musa, Zoroaster, Yesus, Khrisna, dan Budha a.s. tidak serupa dengan sukses para pemimpin politik seperti Napoleon atau Hitler.  Para Rasul Allah mencapai sukses di bawah perlawanan secara langsung terhadap arus alam pikiran, anggapan dan pandangan serta cita-cita zamannya masing-masing, sedang para pemimpin politik hanya merupakan tokoh aliran pandangan zamannya dan merupakan perwujudan dari cita-cita kebangsaan yang meluap-luap.  Para pemimpin politik selamanya mengikuti arus zaman sedang utusan Tuhan bergerak maju melawan arus zaman, di bawah perlawanan sengit, laksana gempuran air terjun, menghadapi arus yang merobek-robek dan mengganas dengan kemarahan yang menyala-nyala.  Meskipun demikian, apa-apa yang mereka khabar ghaibkan itu semuanya menjadi sempurna tepat pada waktunya.

Anda juga dapat

Untuk mengakhiri uraian singkat ini mengenai fakta agung luhur bahkan maha agung luhur itu, marilah kita kemukakan bukti atas pengalaman kami sendiri.

Tuhan berfirman dalam Al-Qur’an Suci: – “Mereka yang berusaha datang kepada Kami, maka sesungguhnya Kami tunjukkan kepada mereka cara untuk mencapai Kami”.  Inilah bukti yang kekuatannya dapat dirasakan sendiri oleh setiap orang.

Semua Rasul Allah dari negara mana atau bangsa manapun, bukan saja mendakwakan bahwa mereka sendiri telah memperoleh perhubungan dengan Tuhan, tetapi juga orang-orang lain dapat sampai kepada Tuhan.  Janji Tuhan yang diberikan kepada dunia dengan perantaraan Rasulullah saw. telah disebut-sebut tadi.  Yesus pun mengatakan bahwa tanda-tanda yang beliau tampakkan, bukanlah sesuatu cara khusus untuk beliau saja, tetapi setiap orang yang beriman dapat mengalaminya sendiri.

Maka wahai saudara/i dalam hal itu begitu mudah, mengapa kita tidak berusaha untuk memecahkan persoalan maha penting ini dengan pengalaman sendiri secara pribadi dari pada bertukar pikiran dengan kata-kata ucapan mulut?  Kami katakan hal ini kepada Anda dengan keyakinan yang penuh, bahwa jika seseorang mencari Tuhan dengan hati yang tulus ikhlas dan bersiap sedia beriman kepada-Nya, maka “Adanya Tuhan” itu akan dapat dibuktikan dan selain itu jika rela ia rela untuk mengatur kehidupannya sesuai dengan petunjuk yang dianugerahkan Tuhan, maka ia selama-lamanya tidak akan kecewa dan menyesal.

Banyak sekali yang telah menguji dan membuktikan kebenaran ini pada zaman yang lampau, maka apakah yang menjadi halangan atau rintangan untuk menyelidiki dan meneliti serta menguji kebenaran ini secara pribadi dengan melakukannya sendiri?

Semoga Tuhan membukakan hati kita untuk cinta dan petunjuk Tuhan.  Amin.

About these ads

0 Responses to “Cara membuktikan adanya TUHAN”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: