BUNG HATTA, Putra Utama Bangsa Indonesia

[] Sinar Islam bulan Ihsan 1359 HS/Juni tahun 1980) No.6 – Th XLVIII, hal. 40-46.

Mengenang Pribadi Besar, Sederhana, dan Jujur

BUNG HATTA  Putra Utama Bangsa Indonesia

oleh : Sayyid Shah Muhammad al-Jaelani – Mubaligh Ahmadiyah

Di dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rahman ayat 27 dan 28, Allah swt. berfirman: “Segala sesuatu di atas bumi akan binasa.  Dan yang akan tetap tinggal untuk selama-lamanya hanya Wujud Tuhan engkau, Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan”.

Sesuai dengan firman Allah di atas, seorang hamba Allah, Dr. Mohammad Hatta, telah berpulang ke Rahmatullah dengan tenang pada tanggal 14 Maret 1980.  Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.  Berita kemangkatannya bagaikan petir di siang hari bolong.  Itulah suratan takdir, bahwa setiap orang yang dilahirkan pasti akan mengalami saat ketika ia harus minum piala maut.  Dengan perasaan haru dan sedih, saya segera mengirimkan telegram menyatakan rasa dukacita dan belasungkawa kepada Ibu Rahmi Hatta atas musibah yang menimpa keluarganya.

Saya mengenal almarhum secara pribadi sejak permulaan tahun 1947, ketika untuk pertama kalinya saya menghadap beliau di kediaman beliau yang terletak di samping Gedung Kepresidenan di Jogjakarta.  Waktu itu saya menghadiahkan sebuah kitab berjudul Ahmadiyyat or True Islam, karya Hadhrat Basyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II.

Dalam perjumpaan untuk pertama kali itu saya mendapat kesan, bahwa kepribadian yang beliau miliki amat menarik: ramah, jujur dalam ucapan dan tindakan, dan sederhana.

Perkenalan dengan beliau lebih diakrabkan setelah saya pindah dari Kebumen ke Jogjakarta atas ajakan almarhum Bung Karno*, untuk turut aktif dalam perjoangan kemerdekaan tanah air Indonesia, selama masa perjoangan di Jogjakarta dengan restu Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. dengan karunia Allah.  Selama kurang lebih tiga tahun saya mendapat kesempatan yang berbahagia berjumpa dan berkomunikasi lewat percakapan yang intim dengan beliau, kalau tidak ratusan mungkin puluhan kali.  Saya sangat terkesan bukan saja oleh keterpelajarannya, tetapi juga disiplin pribadi beliau menjaga waktu, menepati janji, mentaati peraturan Allah, dan menjunjung tinggi etika pergaulan.

Saya dapat mengenangkan kembali peristiwa, tatkala pihak Belanda melancarkan agresinya yang ke-2 dan menduduki ibukota sementara RI, Jogjakarta, Dwi Tunggal – Bung Karno dan Bung Hatta – beserta beberapa pimpinan lainnya ditawan dan diasingkan ke pulau Bangka oleh pihak Belanda.  Saat itu sungguh merupakan saat yang pahit bagi perjoangan bangsa Indonesia.  Mengetahui bahwa Bung Hatta gemar membaca buku-buku agama, saya mengirimkan kepada beliau di tempat pengasingan itu beberapa buah kitab agama terbitan Jemaat Ahmadiyah melalui Palang Merah Internasional.

Pada tahun 1949 tiba saatnya Dwi Tunggal, Bung Karno dan Bung Hatta, beserta pemimpin-pemimpin lainnya — di antaranya, almarhum Haji Agus Salim, Mr. A.G.Pringgodigdo, Laksamana Udara Suryadarma, dan Mr. Ali Sastroamijoyo — kembali di tengah-tengah masyarakat Jogjakarta dengan mendapat sambutan yang menggelora.  saya sendiri, sebagai anggauta Panitia Pemulihan Pemerintahan RI Pusat ( yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantoro) mendapat kehormatan menjemput pemimpin-pemimpin bangsa itu di lapangan terbang Maguwo.  Saya tidak lupa akan saat ketika saya menjabat tangan Bung Hatta; beliau sempat mengucapkan terima kasih atas bingkisan buku-buku yang pernah saya kirimkan kepada beliau tempo hari itu.

Seorang Pencinta Al-Qur’an

Setelah penyerahan kedaulatan dari pihak Belanda ke tangan RI, pusat pemerintahan RI pindah dari Jogjakarta ke Jakarta.

Sekitar tahun 1950 saya berkesempatan menghadiahkan kepada almarhum kitab The Holy Quran with English Translation and Commentary, Jilid I.  Saya persembahkan kitab itu atas nama Jemaat Ahmadiyah Indonesia.  Kitab itu merupakan kitab tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Inggris, terdiri dari 10 juz pertama, disusun oleh beberapa sarjana dan ulama Jemaat Ahmadiyah dibawah asuhan Hadhrat Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II r.a.  Dua tahun kemudian, yakni tahun 1952, saya sempat menghadiahkan lagi jilid keduanya, yang terdiri dari 5 juz berikutnya.

Sekitar tahun 1959 beliau jatuh sakit dan terpaksa dirawat di RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo, menempati bagian pavilium Cendrawasih.  Sekali perisitwa saya bersama istri saya memerlukan melayat beliau.  Ketika kami sampai di paviliun Cendrawasih, kami dapati seorang jururawat wanita duduk di depan kamar beliau.  Ketika kami nyatakan maksud kami, ia menunjuk kepada sebuah tulisan pada sebuah papan yang tergantung di pintu kamar, berbunyi : Dr. Mohammad Hatta, tidak diperkenankan menerima tamu selain keluarganya.  Prof. Dr. Aulia.

Dengan perasaan sedikit kecewa kami terpaksa harus kembali. Tetapi, sebelum meninggalkan tempat itu kami minta kepada perawat itu sehelai kertas dan saya menuliskan nama saya pada kertas itu dengan berpesan kepada perawat itu agar secarik kertas itu disampaikan kepada Bung Hatta dan menitipkan salam dari kami berdua.  Kami melangkah ke luar dari pavilum itu.  Baru saja kami melangkah sejauh 100 meter, terdengar langkah-langkah orang setengah berlari dari belakang dan memanggil-manggil nama saya, “Bapak Sayyid …. Bapak Sayyid!”

Ketika saya menoleh kebelakang, barulah saya mengetahui yang memanggil-manggil itu kiranya jururawat Bung Hatta.  Ia menyilahkan kami kembali, karena Bung Hatta menghendaki sendiri berjumpa.  Maka masuklah kami ke kamar tempat beliau berbaring.  Kami diterima beliau dengan wajah berseri-seri dan keramahan yang khas beliau.

Di tengah percakapan beliau berucap, “Tafsir Al-Qur’an dua buah yang telah Pak Sayyid berikan kepada saya itu saya bawa di sini.  Dan saya suka membacanya di sini,” seraya jari beliau menunjuk ke sebuah pojok kamar, tempat sebuah meja kecil terletak, yang di atasnya terdapat kedua kitab Tafsir yang beliau maksudkan.  Hal itu cukup memberikan citra betapa beliau cinta kepada Kalam Allah.  Tak ada hiburan yang beliau anggap lebih mengasyikkan dalam keadaan beliau sakit selain menelaah firman Allah.  Yang beliau pilih justru tak lain ialah Kitab Tafsir dari Jemaat Ahmadiyah.  Suatu peristiwa yang sungguh melegakan hati saya.

Ketika kami hendak minta diri akan pulang, beliau mengatakan supaya kami jangan pulang dahulu dan menunggu sampai tibanya istri beliau (Ibu rahmi Hatta) yang baru saja pulang ke rumahnya dan sebentar akan datang, dan beliau juga memang tidur di Cendrawasih.  Karena sudah lebih setengah jam kami sudah berada di situ, maka kami mohon diri dan sebelum meninggalkan kamar beliau saya berjanji akan mengirimkan beberapa buah kitab karya Jemaat sebagai bahan bacaan bagi beliau.

Sesuai dengan janji itu, esok harinya saya kirim satu bingkisan berisi buku-buku karya Hadhrat Khalifatul Masih II dan para alim ulama Jemaat.  Bingkisan tersebut diantarkan oleh Sdr. Hamid Ahmad Sukarjo.  Ketika Sdr. Sukarjo sampai di paviliun Cendrawasih di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, kebetulan Bapak I. Wangsa Widjaja, Sekretaris pribadi Bung Hatta, ada di sana.  Beliau menanyakan kepada Sdr. Sukarjo mengenai isi bingkisan itu, dan beliau agak keberatan untuk menyampaikannya kepada Bung Hatta, khawatir bisa menganggu ketenangan beliau, sebab beliau, menurut dokternya, diharuskan beristirahat betul-betul.  Tiba-tiba Prof. Dr. Aulia muncul dan langsung menanyakan kepada Pak Wangsa, “Ada apa itu?”  Pak Wangsa menjawab bahwa ada yang mengirimkan setumpukan buku-buku.  Prof. Aulia melihat sepintas lalu bingkisan tersebut dan mengatakan kepada pak Wangsa “Berikanlah saja ini kepada Bung Hatta, ini merupakan makanan baginya.”

Maka bingkisan tersebut akhirnya disampaikan kepada Bung Hatta.  Esoknya Pak Wangsa Widjaja menyampaikan kepada saya salam dan rasa terima kasih dari Bung Hatta atas kiriman bingkisan “makanan” tersebut itu.

Bingkisan yang dikirimkan itu berisi lebih dari dua puluh kitab, di antaranya: Introduction to the Study of the Holy Quran, Life of the Holy Prophet Muhammad, The Economic Structure of Islamic Society, New World Order, Where Did Jesus Die?, Message of Ahmadiyah, Islam and Communism, Forty Gems, The Hadits, Meaning of Khataman Nabiyyin, Our Teaching, Tafsir Surah Al-Fatihah, Mi’raj dan Isra Nabi saw., Menyingkap keraguan dan Fatwa Allama Mahmud Syaltut, Apakah Ahmadiyah itu, dan lain-lain.

“Sudah saya baca”

Sekitar tahun 1962 saya mendapat karunia Tuhan untuk sekali lagi mempersembahkan Tafsir Al-Qur’an jilid ketiga, terdiri dari 10 juz lanjutan.  Beliau pun menerimanya dengan suka cita dan tak lupa beliau emngucapkan terima kasih.

Sekitar tahun 1968 Bapak Sahibzada Mirza Mubarak Ahmad, kepala departemen dakwah Islam dari Jemaat Ahmadiyah Pusat, berkunjung ke Indonesia dari Rabwah, Pakistan.  Dalam kunjungan itu beliau memerlukan berkunjung kepada almarhum Bapak Dr. Mohammad Hatta di kediaman beliau, Jl. Diponegoro 57, Jakarta.  Delegasi terdiri dari Sahibzada Mirza Mubarak Ahmad, sekretaris pribadi beliau M. Basyarat Ahmad, Ketua PB Jemaat Ahmadiyah Moertolo SH, Sdr. H.S. Yahya Pontoh, Sdr. R. Haji Hadi Iman Sudita SH, dan saya sendiri.  Delegasi diterima beliau dengan segala senang hati, meski pun beliau baru bangun dari sakit beberapa minggu sebelumnya.

Di tengah percakapan mengenai kegiatan dakwah Ahmadiyah di Eropa dan lain-lain negeri, almarhum langsung berkata kepada saya, “Pak Sayyid, Tafsir dua puluh lima juz dulu sudah saya baca.  Saya menunggu-nunggu yang lima juz terakhir.  Sampai kini belum saya terima.”  Bapak Mirza Mubarak Ahmad Sahib, setelah saya berikan penjelasan apa yang diucapkan Bapak Hatta, berkata dalam bahasa Inggeris, “It is now waiting for you” (Kitab itu sekarang menantikan Anda).  Karena itu saya mengeluarkan dari tas saya Kitab Tafsir yang beliau maksudkan, yaitu terdiri dari 5 juz terakhir, lalu saya menyerahkannya kepada Sahibzada Sahid untuk beliau serahkan kepada Bung Hatta.  Bung Hatta bangkit dan berjalan menuju ruang tengah dan kembali membawa ketiga jilid Tafsir yang sudah lebih dahulu beliau terima.  Beliau menerima jilid yang terakhir dengan senang hati dan langsung membuka dan melihat-lihatnya dengan penuh minat (seperti nampak pada foto).  Nyata benar betapa jiwa beliau merindukan sekali bacaan yang berkenan dengan keagamaan dan betapa cinta beliau kepada Kitab Allah.

Orang Besar dengan Jiwa Besar

Saya mempunyai pengalaman pribadi yang mencerminkan watak beliau.  Beliau dengan saya adalah seibarat gunung dengan sebuah batu kerikil.  Namun, alangkah besar perhatian beliau terhadap seorang kenalan yang tidak berarti sebagaimana halnya saya.

Sekitar tahun 1976 saya jatuh sakit, kena serangan jantung.  Oleh dokter yang biasa merawat saya, malam hari itu juga saya disuruh masuk ke ruang ICCU, tempat penderita penyakit jantung gawat, di RSUP Dr. Cipto Mangunkusuma.  Secara kebetulan sekretaris pribadi Bapak Hatta, Bapak I. Wangsa WIjaya memergoki saya di eawat di sana.  Rupa-rupanya beliau menceriterakan hal itu kepada Bung Hatta, ternyata dari kedatangan Bung Hatta  secara tak terduga bersama Ibu melayat saya.   Masih segar diingatan saya kata-kata beliau menghibur saya.  Betapa besar saya merasa terharu mengingat beliau seorang besar, putra utama bangsa indonesia, ko-proklamator kemerdekaan di samping Bung Karno.  Beliau siapa dan saya siapa!  Tetapi budi luhur dan jiwa besar beliau menggugah hati beliau memerlukan menjenguk seorang kenalannya yang hina sedang menderita sakit.  Hal itu cukup menunjukkan kerendahan hati beliau yang murni.  Kemudian saya mendapat layatan lagi 2 kali dari beliau bersama-sama Pak Wangsa.  Jadi selama 22 hari saya dirawat di ICCU saya mendapat kehormatan kunjungan beliau tiga kali.

Akhlak beliau serupa itu sesuai dengan ajaran Nabi Besar Muhammad saw., bahwa, “Jika di antaramu ada yang sakit tengoklah dia, dan jika ada yang wafat  di antaramu antarkanlah dia ke kuburan.”

Bung Hatta adalah milik bangsa Indonesia.  Nama yang diberikan oleh ayahnya adalah Athar, artinya wangi-wangian.  Secara alamiah beliau benar-benar seorang Aththaar — pembuat, penjual, dan penyebar wangi-wangian.  Beliau sudah tiada, namun beliau yang harum menyebarkan wangi semerbak ke mana-mana.  Di samping beliau seorang pecinta Al-Qur’an dan agama Islam, beliau adalah penyebar dan pendekar patriotisme, penggembleng nasionalisme berdasarkan demokrasi kerakyatan.  Beliau berhasil dalam cita-cita perjoangan bangsanya dan mendapat karunai dari Tuhan menjadi ko-proklamator kemerdekaan bersama rekan perjoangannya, Bung Karno.

Kita, 140 juta bangsa Indonesia, sungguh berhutang budi kepada kedua-dua putera utama bangsa Indonesia.  Soekarno-Hatta.  Semoga Tuhan memberi kesadaran dan taufik kepada bangsa Indonesia yang telah dinaikan derajatnya oleh kedua beliau ke puncak kemuliaan, supaya dapat meneruskan dan mensukseskan cita-cita perjoangan mereka.  Semoga Tuhan memberi pahala yang sebesar-besarnya atas jasa-jasa mereka kepada bangsa dan tanah air Indonesia.

Satu hal yang patut kita catat ialah, pernah Rasulullah saw. bersabda, “Ceriterakanlah yang baik mengenai saudaramu yang meninggal dunia,”  maka sesuai dengan ajaran itu setelah Bung Karno wafat, tidak pernah keluar dari mulut Bung Hatta sepatah kata pun yang mengecilkan nama baik dan kehormatan Bung Karno.  Suatu sifat yang sungguh patut ditiru oleh setiap mukmin.

Pada saat-saat golongan tertentu dan orang-orang vested interest sibuk memalsukan serta menggelapkan sejarah mengenai filsafat negara RI “Panca Sila”, maka Bung Hatta dengan tegas dan secara jujur membongkar usaha pemalsuan tersebut dengan menyatakan dan disertai bukti-bukti bahwa Panca Sila itu adalah inspirasi pribadi Bung Karno yang dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 di muka sidang Badan “Dokuritzu Zyunbi Tyoo Sakai” (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) di bawah pimpinan Ketua Badan tersebut almarhum Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat, dicetuskannya sebagai Filsafat Negara Indonesia Merdeka.

Almarhum Bung Hatta pada detik-detik akhir hayatnya pun tetap menunjukkan sikap juur serta korektif mengenai sejarah perjoangan Bangsa Indonesia secara murni.  Beliau segera angat suara, untuk membantah hal-hal yang sekiranya sengaja atau tidak sengaja hendak memalsukkan sejarah perjoangan Bangsa Indonesia.

Bung Hatta tetap berada di tengah-tengah rakyat dengan wasiatnya yang terakhir minta agar beliau dimakamkan di tengah-tengah rakyat jelata.  Jasadnya sudah tiada, namun namanya yang harum akan tetap hidup selama bangsa dan tanah air Indonesia ada.

Hidup Indonesia!

Hidup Soekarno-Hatta!

—-

*Soekarno, tentang Ahmadiyah, Oleh Syafi R Batuah.  (Sinar Islam Nubuwwah 1356 HS/Nopember tahun 1977, hal.2-10)

3 Responses to “BUNG HATTA, Putra Utama Bangsa Indonesia”


  1. 1 dildaar80 15 Juni, 2010 pukul 8:09 pm

    asssalamu ‘alaikum…salam kenal…

  2. 2 marsela-Jak.Bar. 24 Oktober, 2010 pukul 2:48 pm

    Allah Mencukupi Keperluan Hamba yang Bertakwa, melalui Jalan yang Tidak Disangka.

    ….. Wa may yattaqillaaha yaj’al lahuu makhrajaa. Wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasibu, wa may yatawakkal ‘alallaahi fahuwa hasbuhuu …….

    Sekarang ini sudah ada banyak sarana yang tersedia. Para Muballigh Wakaf di zaman dulu berhadapan dengan banyak kesulitan, dana sungguh sangat terbatas.

    Ada ceritera kejadian dari Muballigh di zaman dahulu untuk memberikan gambaran tentang betapa tingkat pengorbanan mereka itu. Hadhrat Syed Shah Muhammad sahib sudah bertugas selama 18 tahun terus-menerus di Indonesia. Beliau hidup dengan gaji allowance yang sangat kecil dan tidak pernah minta pertolongan. Beliau hanya meminta kepada Tuhan untuk semua keperluannya. Pada saat beliau kembali ke Pakistan dari Indonesia melalui jalan laut, beliau hanya memiliki sebuah overcoat dan dua pasang pakaian. Ketika di atas kapal, ada pikiran terlintas di dalam hatinya bahwa ia sedang pulang setelahnya bertugas sekian lamanya (18 tahun), tetapi bahkan beliau sama sekali tidak punya baju baru untuk dipakainya waktu datang ke Rabwah nanti. Tetapi beliau kemudian menghapus pikiran keinginannya semacam itu, karena hal itu bertentangan dengan spirit dari seorang yang sudah me-Waqaf-kan hidupnya. Beliau pun menyadarinya.

    Ketika kapalnya sudah merapat di dermaga di Singapore, dari atas dek beliau melihat ada seseorang yang membawa bungkusan mendekati kapal. Orang tersebut menemui Kapten Kapal dan menanyakan sesuatu, yang kemudian diantar untuk menemui Shah sahib, dan memeluk beliau, mengatakan bahwa ia adalah seorang anggota Jemaat. Orang tersebut mengatakan bahwa ia adalah seorang penjahit dan telah membaca dalam Harian Al Fazl tentang perjalanan pulang Shah sahib kembali ke Rabwah melalui Singapore. Ia ingin sekali untuk berjumpa dengan beliau dan memberikan hadiah. Karena ia sudah melihatnya dari potretnya sehingga ia dapat memperkirakan bagaimana ukuran bajunya yang cocok, maka ia menjahit beberapa buah baju.

    Hal itu membuat menetesnya air mata Syed Shah sahib, betapa Tuhan telah memberikan pikiran kepada seseorang yang tidak dikenalnya untuk memenuhi keinginannya. Beliau menulis bahwa jika seorang Muballigh itu hanyalah berharap kepada Tuhan untuk meminta pertolongan, dan tidak memintanya kepada siapa pun juga, maka Tuhan akan menyediakan keperluan baginya dari jalan yang ia tidak ketahui, yang tidak disangka-sangka olehnya.

    Firman Allah SWT. dalam Kitab Suci Alqur-aan:
    ….. Wa may yattaqillaaha yaj’al lahuu makhrajaa. Wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasibu, wa may yatawakkal ‘alallaahi fahuwa hasbuhuu ……. – ….. Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, Dia akan membuat baginya suatu jalan keluar. Dan, Dia akan memberikan rezeki kepadanya dari mana yang ia tidak pernah menyangka. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupi baginya. ……

    (Ath Thalaaq, 65 : 2 – 3 / 4) (Fr.S. 22-10-2010)

  3. 3 Ika 17 Februari, 2011 pukul 5:57 pm

    sungguh2 sesak hati ini,penuh akan kharuan & kbahagiaan stlh mbaca ttg bung Hatta, krn sy tdk pernah mngetahui beliau sbgmn sy mngetahui riwayat bung karno.. Luar biasa skali. Semoga bisa menjadi teladan bg negarawan yg lain..


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: