Mukjijat Pena

[ Sinar Islam bulan Sulh 1366 HS/ 1 Januari tahun 1987) No.1 – Th LIV, hal. 30 – 33.]

Mukjijat Pena

Oleh : Syed Hasanat Ahmad

Sepanjang sejarah manusia, belum pernah seseorang menggunakan penanya dalam mempertahankan kepercayaannya sekeras, sekuat dan segigih Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad — putra besar ruhani dari Nabi Suci Muhammad saw..
Ahmad a.s. membukakan khazanah tak terhingga ilmu pengetahuan dengan sebebas-bebasnya, sepemurah-pemurahnya dan sebanyak-banyaknya.  Ia menggenapkan sebuah ucapan masyhur Nabi Suci saw., bahwa Imam Mahdi akan membagikan harta dengan bebasnya.

Berjuta kata mengalir dari penanya, tulisan-tulisannya memenuhi ribuan halaman yang terbalut dalam bobot delapan puluh jilid buku lebih.  Ini tidak termasuk ratusan poster, selebaran dan lembar-lembar pengumuman yang dikeluarkan Ahmad demi memaku kedustaan atau menantang musuh-musuh Islam.

Sarana penyampaiannya, adalah bahasa-bahasa Urdu, Arab dan Persia, meskipun karena pendidikannya yang tak seberapa, ia tidak dapat mengaku sempurna dalam bahasa-bahasa itu.  Urdu adalah bahasa kebanggaan Dehli dan Lucknow sedangkan Ahmad berasal dari sebuah desa jauh dari batas-batas peradaban dan kebudayaan masa itu.  Akan tetapi Ahmad menelorkan suatu gaya bahasanya sendiri yang tidak sedikit memperkaya literatur Urdu, begitu besarnya sehingga hal itu mencengangkan para sarjana yang merasa bangga, karena budayanya yang kaya.

Pena Ahmad mengandung daya magis, memukau dan mempesona serta menghipnotis para pembaca yang tak mungkin dapat dilakukan seorang penulis pun.  Logikanya yang dingin, kekuatan hujahnya, ketangguhan dalil-dalilnya, metodanya menginduksi dan mendeduksi, dinamikanya dalam gaya dan ungkapan membuat kawan dan lawannya bungkam seribu basa.

Kecintaan Ahmad pada Tuhan, pengabdiannya kepada Nabi Suci dan perhatiannya pada Al-Qur’an Suci yang benar-benar mendalam, sungguh tiada tara dan bandingan.  Kecintaannya pada Islam mengalirkan tulisan-tulisan perkasa tanpa henti-hentinya sehingga membuat para penghulu berbagai agama bertahan-tahan.

Tuhan telah memberkatinya dengan dua karunia khusus; karunia ilmu dan karunia untuk menyampaikan ilmunya.  Mukjijat penanya dalam bahasa Urdu maupun Arab, karunia Tuhan kepadanya, tetap tak terlawan selama-lamanya.  Tak mengherankan, jika Ahmad dapat menampakkan kemampuannya dalam dua bahasa ini tanpa seorang pun dapat mengunggulinya.

Ahmad mendapat karunia khusus untuk memahami Al-Qur’an.  Ia menegaskan serta mengukuhkannya dengan sehebat kekuasaan raksasa, bahwa Al-Qur’an Suci itu adalah suatu sumber ilmu yang tak berbatas — tak berbatas dalam pengertian-pengertiannya dan dalam sifat-sifat serta khazanahnya.  Ahmad menampakkan suatu keagungan dan kecemerlangan baru pada Al-Qur’an dengan menemukan banyak keistimewaan dan keindahan yang tinggal tersembunyi selama berabad-abad.

Ahmad memperlihatkan dengan dalil-dalil bahwa Al-Qur’an Suci sarat dengan nubuwat-nubuwat tentang zaman kita ini, di antaranya sudah genap dan yang lainnya masih menunggu penggenapan.  Al-Qur’an tidak pernah membuat suatu pernyataan kecuali dibarengi dengan dalil meyakinkan untuk pernyataan itu.  Setiap keraguan atau kesulitan yang timbul dalam pikiran seseorang dapat diselesaikan dengan mudah oleh Al-Qur’an sendiri.  Ahmad memperlihatkan aneka segi dari pada Al-Qur’an dengan menjelaskan bagaimana suatu teks itu harus ditafsirkan.  Al-Qur’an membukakan pengetahuan tentang gejala-gejala alamiah yang diperlukan untuk kemajuan ruhani manusia.  Ia memberikan prinsip-prinsip penafsiran Al-Qur’an agar seseorang bisa terhindar dari kesalahan.  Ahmad menemukan bahwa Al-Qur’an Suci mengandung suatu uraian sistematis dari kemajuan ruhani, dan memperinci tahapan-tahapan yang dapat dicapai oleh manusia.  Ia membuktikan bahwa Al-Qur’an mempunyai urutan yang sempurna.  Ayat-ayat dari masing-masing surah saling berhubungan dalam untaian yang rasional.

Ahmad adalah orang pertama yang menunjukkan bahwa Surah Al-Fatihah adalah suatu rangkuman dari Al-Qur’an Suci dan juga suatu prolog ke dalam Kitab Suci itu, karena surah-surah lainnya merupakan suatu penjelasan dari padanya.  Ia menjelaskan bagaimana makna-makna dari berbagai bagian dan ayat-ayat Al-Qur’an mempunyai kaitan nya dengan kebutuhan masa kini.

Ketika Ahmad mengumumkan misinya untuk perbaikan masyarakat, ia diserang karena dianggap kurang ilmunya dan pendidikannya.  Ia dikatakan sebagai seorang Munshi (klerk) dan seorang cendekiawan setengah matang.  Dikatakan bahwa ia tidak mengetahui bahasa Arab dan karenanya tidak memiliki kualifikasi yang seharusnya untuk mengambil keputusan hukum dalam hal-hal yang memerlukan pendidikan tinggi.  Tirai prasangka pun menyelimutinya.  Ketika gelombang penentangan ini meluas, Tuhan menganugerahinya dengan suatu pengetahuan khusus bahasa Arab dan mengaruniainya dengan pengetahuan 40.000 akar kata bahasa Arab dalam satu malam saja.  Ahmad dikaruniai kemahiran ajaib dalam bahasa Arab dan diperintahkan untuk menulis buku-buku dalam bahasa Arab.  Karyanya yang pertama adalah prosa Arab adalah sebuah bab yang disertakannya dalam bukunya yang menonjol, Aeena Kamalat-Islam.  Bab ini berisi sebuah tantangan terbuka kepada siapa pun yang mampu menemukan kesalahan dalam bahasa Arab karunia Tuhan itu.

Jumlah buku yang ditulisnya dalam bahasa Arab terus menumpuk sampai mencapai angka 20.  Ahmad meminta para pengkritiknya agar membuat sesuatu yang lebih baik, tetapi tak seorang pun yang berani menyambut tantangannya.  Ia kemudian menawarkan hadiah mulai RS 1.000 yang terus menaik sampai RS 10.000, tetapi sekalipun ada tawaran yang menggoda itu, tak seorang pun mampu membuat sesuatu yang sebaik tulisan Ahmad dalam keindahan, kefasihan dan wibawanya, maupun yang lebih rendahan daripadanya.  Semua buku Arabnya tetap merupakan suatu tantangan sampai kini pun; bahkan orang-orang Arab diundang untuk menyambut tantangan itu, tapi tak seorang pun maju.

Kemudian timbul dalih, bahwa Ahmad telah mempekerjakan seorang Arab dengan rahasia, untuk membuat tulisan-tulisannya dalam bahasa Arab.  Untuk membungkam persangkaan ini, Ahmad diperintah Tuhan untuk menyampaikan sebuah khutbah dalam bahasa Arab pada Idul Adha mendatang yang akan tiba dalam beberapa hari lagi (11 April 1900).  Sesuai dengan perintah Tuhan, Ahmad menyampaikan sebuah khutbah panjang dalam bahasa Arab yang direkam langsung oleh suatu tim termasuk Hadhrat Maulvi Nuruddin, yang kemudian terpilih sebagai Khalifah pertama.  Khutbah itu — yang kemudian diterbitkan dengan judul Khutbah Ilhamiah (Khutbah diwahyukan) — disampaikan dalam bahasa Arab bertaraf tinggi yang mengherankan baik orang-orang Arab maupun bukan.

Menulis buku-buku ini bukanlah satu-satunya pekerjaan Ahmad.  Ia mengeluarkan selebaran-selebaran, lembar-lembar pengumuman dan tulisan-tulisan pendek, serta menulis surat-surat dan memberikan pidato-pidato dan mengadakan wawancara dengan ratusan ribu pencari kebenaran.  Menurut suatu perkiraan, dalam tujuh tahun setelah Bai’at pertama, ia menerima 90.000 surat yang harus dibalasnya sendiri. Menulis 40 atau 50 surat dalam sehari bukanlah suatu pekerjaan mudah bagi seseorang yang harus memberikan pidato, mengadakan perdebatan dan menulis buku.  Dan juga ia harus menerima orang-orang yang menemuinya, karena Islam menyuruh bersikap ramah terhadap tamu-tamunya.

Suatu catatan tentang Bai’at pertama yang dilakukan Ahmad pada 23 Maret 1889 di Ludhiana.  Orang akan bertanya-tanya mengapa Ludhiana dan bukan Qadian yang mendapat kehormatan sebagai tempat Bai’at pertama.  Setiap tindakan Masih Mau’ud adalah dengan perintah Tuhan dan di situ mungkin ada suatu kebijaksanaan dan makna tertentu.

Dan memang ada.  Tepat 54 tahun sebelum Bai’at pertama, Ludhiana menjadi kota pertama di negeri bersungai lima itu dimana Misi Kristen dan Gereja pertamannya dicanangkan tidak hanya untuk mengkristenkan seluruh Punjab, tetapi juga seluruh Asia Tengah.  Rev. Lowrie, seorang misioner Kristen Amerika ketika kembali seusai pendirian Misi di Ludhiana tersebut mengatakan : “Misi yang didirikan di Ludhiana akan menjadi Bintang Pagi sebagai pendahulu bagi hari penuh Cahaya Injil.”

Maka tangan Tuhan pun beraksi, dan tepat 54 tahun setelah kejadian itu, kebangkitan Masih Mau’ud terjadi di kota yang sama dan misi bersejarah “pemecahan Salib” pun mulailah. [] Alihbahasa : M.T. Suparman

0 Responses to “Mukjijat Pena”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: