‘Id Qurban Hari Raya Hadji

“Selamat merayakan Idul Adha 10 Dzulhjjah 1429 H / 8 Desember 2008..”

Ini adalah sebuah artikel dari seorang muslim ahmadi di tahun 1957, yg diambil Sinar Islam No.7 Djuli 1957.

Semoga bermanfaat, dan Selamat membaca..


Id Qurban Hari Raya Hadji

Oleh : Mohammad Ayyub

Nabi Ibrahim, Hadjirah, N. Isma’il dan Nabi Muhammad s.a.w. Setiap tahun, bulan Zulhidjdjah / bulan Hadji gemuruhlah suara Allahu Akbar-Allahu Akbar walillahil Hamd. Maha Agunglah Tuhan itu, kepada-Njalah diutjapkan pudja dan pudji.

Begitulah utjapan orang-orang Qudus di setiap pendjuru dunia ini, jang beratus-ratus djuta banjaknja, Tuhan itulah sumber sinar, jang menjinari alam semesta ini. Sinar itulah djuga sudah mendjadikan terang benderangnja alam djuga tadinja diliputi oleh awan kabut gulita. Kegelapan jang ditimbulkan oleh karena meninggalkan-Nja, meninggalkan Sinar jang memantjar itu. Manusia pergi menjembah benda, menjembah machluk jang fana, menjembah nafsu ammarah jang angkara murka.

Silsilah kedatangan tokoh-tokoh manusia diatas, adalah landjutan dari orang-orang sebelumnja. Nabi Adam, Nuh, dan lain-lain, Utusan Tuhan.

Dizaman kedatangan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail itu adalah masa dan zaman gelap. Zaman katjau balau, zaman pertumpahan-darah, zaman miskin mala-petaka, Manusia-manusia dizaman itu, kaja miskin, tinggi rendah, sampai kekepala Negara mereka sendiri, tenggelam menjembah benda, menjembah machluk menjembah patung-berhala, menjembah matahari, bulan dan bintang. Ini adalah sumber kegelapan, inilah jang mengudjudkan zaman gelap itu. Setiap masa dan zaman, itulah jang mendjadi sebab keruntuhan achlak, kedjajaan hidup manusia. Dan zaman kedatangan Nabi-nabi / Utusan-utusan Tuhan itu, adalah pejingkap-pembuka tabir gelap dan membawa ke zaman indah jang gemilang kembali. Begitulah sunnah Allah jang berdjalan terus menerus disetiap masa. Itulah zaman jang datang dan pergi berganti-ganti.

Nabi Ibrahim dengan Ibu Hadjirah serta anaknja Ismail a.s. sudah mengambil tempat perdjuangan baru, tempat jang djauh dari tanah airnja sendiri.

Tanah Mekkah-lah dipilihnja. Tanah Mekkahlah tempat jang dipilihnja itu. Tanah Mekkahlah mendjadi tanah Sutji, tanah tempat memantjarkan Sinar / Nur jang abadi untuk seluruh manusia. Disana ketiga tokoh ini, membina dunia baru kembali, dunia aman makmur, aman sentosa. Dari sana dipantjarkan nama Tuhan, adjaran Tuhan untuk mentjapai kehidupan djaja dan mulia. Hidup bahagia. Atas Nusrat pertolongan Tuhan keadaan berobah. Masjarakat manusia mendjadi hidup, hidup dinamis. Hidup bertuhan, bermasjarakat ke-Tuhanan. Hanja DIA jang tertinggi , Dia jang berhak mendapat pudja dan pudji. Manusia dan machluk lainnja merupakan machluk jang ‘abadi baginja. Tiada tinggi tiada rendah, tidak berwarna putih dan kuning dan hitam, sama dihadapan-Nja. Hanja jang mulia dan tinggi, ialah orang-orang jang tinggi ‘ubudijatnja dihadapan Tuhan.

Dalam mengenangkan Hari Mulia ini, sudah sewadjarnja kita mengenangkan dengan setjara mendalam, hidup dan kehidupan, uswah-hasanah dari tokoh-tokoh itu. Itulah peringatan jang akan dapat menghidupkan semangat baru, djiwa baru, masjarakat baru dalam dunia ini. Itulah pula revolusi hakiki.

Pribadi Nabi Ibrahim a.s.

Dalam hidup Nabi Ibrahim, dalam pribadinja Ibu dan Putranja Isma’il a.s. kita dapati tjontoh-tjontoh jang baik, dan hidup.

1. Adalah Ibrahim itu, muchlis dan patuh, tidak mempersekutukan Tuhan. (Qur’an Ali Imran 68.)

2. Sesungguhnja Ibrahim itu, adalah Awwah dan Halim. (Taubah 114.) Awwah itu penjantun, sakit orang terasa dahulu atas dirinja. Kepentingan orang terasa dahulu olehnja. Sehingga berchidmat untuk orang mendjadi kerdja utama baginja. Halim, biarlah dia menanggung susah dahulu, asal sadja kawan-nja manusia mendapat nadjat kelepasan dan bahagia. Dua sifat pribadi inilah jang ditanamkan kedalam keluarga dan zurriatnja. Kemudian mendjadi subur dan hidup. Dengan dua sifat ini, manusia kembali berhati santun dan sajang sesama manusia. Hati inilah jang kemudian mengudjudkan masjarakat hidup dan baru. Ganggu gugat terhadap sesama manusia hilang lenjap. Hilang karena Awwah dan Halim itu.

Bukan sekadar itu sadja, tapi Nabi Ibrahim a.s. sudah menghadapkan do’a untuk lawannja sendiri. Inilah jang ditimbulkan oleh awwah dan halim itu. Nabi Ibrahim a.s. sudah mendjadikan untuk mendo’akan orang tuanja djuga.tidak insaf-insaf dengan adjaran dan adjakannja. (Quran Taubah 114.) Dia kasih sajang kepada lawan sekalipun. Tidak kedjam dan tidak kasar terhadap musuhnja itu.

Pendidikan terhadap zurriat

Anak dan tjutju, zurriat, adalah hubungan badan jang akan melandjutkan perjuangan sutji. Landjutan perdjuangan bapak ini tidak akan berhasil baik, kalau bapak tidak mengalirkan djiwanja kepada anak dan zurriatnja itu. Adjaran djiwa jang kudus dari Nabi Ibrahim a.s., dimasukkannja kepada Isteri, keluarga dan zurriat. Anaknja dibimbing kepada berdjiwa awwah dan halim. Dibawanja kepada ber-Tuhan dan melaksanakan hukum Tuhan atas dirinja. Dibawanja kepada tjinta mengchidmati machluk, sesama manusia. Dibawanja mendjadi pedjuang seperti dia. Pedjuang kesutjian, ke’adilan, ketjintaan sesama manusia dan kasih. Rumah ‘ibadah dibangunkannja, dibersihkannja, diperbanjaknja. Orang diadjaknja dengan pengertian, bebas dari tekanan dan takut. Nama Tuhan, adjaran Tuhan disebarkannja dengan luas dan merata. Sehingga mendjadilah hidupnja, hidup mudjahid-pedjuang jang kudus.

Pembasmian, pemberantasan sjirik, anti Tuhan, ber-Tuhan-banjak dikerdjakannja bahu-membahu dengan anak dan istri. Sampai menjanggupi meninggalkan kekasihnja / tanah – air, pergi di Padang Sahara / Gurun pasir djuga tandus dan kering itu, Negri Bakkah (Makkah) lembah – tangisan, hamba-hamba Tuhan.

Di Mekkah ini, Nabi Ibrahhim dengan bahu-membahu sama anak istri membersihkan Rumah Allah tempat pemudjaan jang abadi. Rumah Sutji dibersihkan, rumah Allah diperluas. Untuk diri, zurriat dan untuk chalajak ramai jang akan datang.

Kami pesankan kepada Ibrahim dan Ismail, supaja mereka membersihkan Rumah-Ku, untuk orang-orang jang akan datang ber-tawwaf dan beritikaaf (Baqarah 126.).

Nah, Nabi Ibrahim a.s. dan putranja Ismail a.s. sudah mendjadikan tugas hidupnja untuk kedjajaan Rumah Allah (Masdjid). Pertablighan, penjiaran pengadjaran dipergiat siang malam. Dengan itulah Rumah Tuhan akan makmur dan ramai. Didalam itulah roh persaudaraan sesama manusia ditanamkan, didalam rumah itulah diadjarkan peladjaran-peladjaran sutji untuk masjarakat. Dirumah Allah itulah dimulai masjarakat baru, masjarakat jang bebas dari kasta-kasta, masjarakat manusia sutji . Mulai dirumah itu, pandangan manusia, tinggi rendah, kasta-kasta menghilang lenjap. Hanya satu Maha Guru, satu Pemimpin Agung (Rab), satu jang Maha Tinggi, jaitu Tuhan. Semuanja bersaudara, berhati kasih-sajang antara satu sama lain. Bimbing membimbing, tolong menolong, sesakit se-senang. Persatuan sutji timbul dengan djajanja. Selain dari; a. Awwah dan Halim; b. Pembangun Rumah Allah, ada lagi djiwa-besar dalam ketiga tokoh itu. Jaitu djiwa korban besar-besaran. Itulah dia djiwa ber-Qurbaan !

Bukan qurban harta benda, usaha, dan qurban perasaan sadja, tapi telah menjanggupi qurban kekasih, anak, untuk ke-ridlaan Tuhan. Sedia mengorbankan kekasih. Sang bapak, Ibu dan anak semua mau menerima pengurbanan jang tinggi itu. Pengorbanan tjobaan jang disanggupi mereka. Anak mau qurban, Ibu rela qurban anak, sang bapak apalagi. Qurban untuk Tuhan, untuk agama, untuk kedjajaan manusia dan masjarakat.

Tiga perkara jang dimiliki tokoh-tokoh manusia ini dimiliki pula oleh anak tjutjunja jang djauh datang kemudian. Itulah Nabi Muhammad s.a.w. jang memilikinja. Dengan sifat-sifat ini Nabi Muhammad s.a.w. sudah membangun masjarakat ke emasan jang gilang-gemilang itu.

Sifat ini pula jang dimiliki oleh chadim Islam, umat Muhammadiyah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. bersama istri dan anak-anak, zurriat beliau a.s. Beliau-beliau ini berhati awwah-halim, pembangun Rumah Allah, penjiaran Agama dalam Alam semesta. Pengurbanan jang terachir mereka sanggupi dengan penuh rasa tjita dan sadar.

Kiranja kembalilah manusia sekarang ini, kepada sunnah-sunnah sutji murni itu, kembalilah manusia menjintai Tuhan, Rumah Tuhan, mentjintai penjiaran bersifat awwah dan halim itu. Kembali kepada djiwa suka berqurban.

Allahumma shalli ala Muhammad, kama shallaita ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim, wabarik ala Muhammad kama barakta ala Ibrahim fil alamiina innaka Hamidun Madjid.

2 Responses to “‘Id Qurban Hari Raya Hadji”


  1. 1 dildaar80 15 Juni, 2010 pukul 8:40 pm

    Penulisan Mohammad atau Muhammad sebaiknya lengkap. pak Cheema almarhum pernah mengedarkan surat melalui darsus pd 1990an agar guna menghormati nama junjungan kita maka penulisan Mohammad atau Muhammad sebaiknya lengkap bukan singkatan Mohd.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: