Mengembangkan Sifat-sifat Moral

“Ya Allah, pancarkanlah sinar ke dalam hati dan telingaku;

Pancarkanlah sinar pada mataku dan lidahku;

Pancarkanlah sinar di sisi kananku dan di kiriku;

Pancarkanlah sinar di atasku dan di bawahku; Lingkupilah aku dengan cahaya-Mu.”

( Do’a Rasulullah saw. )


Diambil dari Sinar Islam bulan Syahadat 1357 HS/April  tahun 1978 No.4 – Th XLVI, hal 13 – 27.

Mengembangkan Sifat-sifat Moral

Oleh : Bashir Ahmad Orchard – Mubaligh Ahmadiyah di Glasgow

Orang-orang yang berkunjung ke Edinburg di Scotland akan melihat sebuah tugu kokoh yang berdiri dekat Princes Street kira-kira seratus meter dari Stasion Waverly.  Monumen ini didirikan untuk menghormati dan mengenangkan Sir Walter Scott, seorang punjaga dan sejarahwan Scotland termasyhur dari abad lalu.  Bila saja saya menampak atau membayangkan monumen ini saya terkenang akan perkataanya terakhir sebelum maut menguasainya, yang diucapkannya kepada mantu laki-lakinya ketika ia terbaring ditempat tidur.  Katanya: “Aku punya hanya semenit lagi untuk berbicara dengan engkau.  Anakku, jadilah engkau orang yang berkebajikan; jadilah orang berbudi; jadilah orang saleh; jadilah orang baik.  Tak ada barang lain yang akan memberikan hiburan kepadamu bila engkau sudah terpaksa berbaring di sini.”

Sekalipun Sir Walter Scott telah meraih kemasyuran dalam kesusastraan dan telah menjadi pujaan bagi berjuta-juta pembacanya, namun pada akhir hayatnya ia menginsafi bahwa pekerjaan yang patut mendapat pujian dalam kehidupan ialah usaha melakukan kebajikan-kebajikan.  Ia memahami suatu kebenaran agung dari Islam yang terdapat dalam Al-Quran suci:

“Kujadikan jin dan manusia hanya supaya mereka menyembah-Ku” (51:57).

Dalam ayat ini perkataan “menyembah” tidak hanya berarti melakukan sembahyang.  Artinya ialah agar kita menjelmakan sifat-sifat Tuhan dalam pikiran-pikiran, perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan.  Kita harus mengagungkan-Nya dengan jalan memperlihatkan sifat-sifat moral.  Inilah tujuan hidup kita dan oleh karena itu kita harus memusatkan perhatian kita pada cita-cita ini dengan segenap daya upaya.  Hari demi hari kita harus berusaha memancarkan sinar kebajikan atas setiap pikiran yang kita pikirkan, atas setiap kata yang kita ucapkan atau goreskan, pada setiap tindakan yang kita lakukan, dan malahan pada setiap air muka yang kita tampakkan.  Do’a berikut ini harus menjadi sumber penjiwaan bagi kita:

Ya Allah, pancarkanlah sinar ke dalam hati dan telingaku; Pancarkanlah sinar pada mataku dan lidahku; Pancarkanlah sinar di sisi kananku dan di kiriku; Pancarkanlah sinar di atasku dan di bawahku; Lingkupilah aku dengan cahaya-Mu.

Pada suatu tempat Al-Quran Suci menerangkan bahwa memuncaknya kebajikan-kebajikan haruslah menjadi tujuan utama kita dalam kehidupan, karena ia akan mengangkat kita ke atas kedudukan yang mulia dalam pandangan Tuhan, suatu hal yang harus menjadi cita-cita terakhir dari setiap orang mukmin sejati.

Dalam Al-Quran Suci Allah berfirman:

“Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kamu di sisi Tuhan ialah yang paling mutaqi” (49:14).

Dengan nyata senyata-nyatanya Al-Quran menerangkan kenapa kita dijadikan.  Ia menerangkan bahwa kita harus berusaha lebih unggul dalam sifat-sifat moral.  Kalau demikian halnya mengapa kita lebih menyukai pemuasan sesuatu keinginan lainnya?  Memang,  kita boleh mempunyai keinginan-keinginan; tetapi keinginan kita yang terbesar seharusnya pengembangan sifat-sifat moral.

Allah menyatakan bahwa Dia memerintahkan puasa di bulan Ramadhan hanyalah semata-mata sebagai alat untuk memperoleh taqwa.

“Diwajibkan bagi kamu berpuasa…  supaya kamu bertaqwa” (2:184).

Mengingat hal ini kita seharusnya berharap supaya Ramadhan segera datang dan giat melakukan ibadah puasa itu, kecuali bila alasan-alasan sah menghambat kita melakukan itu.

Kebanyakan manusia di dunia sangat mementingkan usaha memperoleh kesejahteraan keuangan.  Mereka lupa bahwa perak kurang berharga dari emas dan emas kurang berharga dari kebajikan.  Tuhan berfirman dalam Al-Quran Suci:

“Dan cintanya sangat keras pada harta benda” (100:9).

Walaupun mungkin baik mempunyai uang banyak, tetapi juga adalah baik sewaktu-waktu memeriksa diri sampai kita memperoleh kepastian bahwa kita tidak kehilangan barang-barang yang tidak dapat dibeli dengan uang, seperti sifat-sifat moral.  Mengenai kesejahteraan sejati Tuhan bersabda dalam Al-Quran Suci:

“Sesungguhnya ia akan sejahtera barangsiapa yang membersihkan dirinya sendiri”. (87:15).

Hendaklah kita ingat bahwa kebajikan bagi ruh adalah seperti kesehatan bagi badan.  Orang-orang sangat mementingkan kesehatan badan mereka bersedia mencurahkan perhatian sebesar-besarnya kepada pengaturan makan untuk menjaga kesehatan.  Bila saja kurang sehat mereka segera pergi ke dokter dan mencari obat yang paling mujarab; tetapi umumnya mereka sedikit sekali menaruh perhatian terhadap pemberian makan untuk ruh mereka berupa umpan ruhani dan begitu pula mereka tidak berusaha memperoleh obat mujarab untuk penyakit-penyakit ruhani mereka.

Islam memberikan tata cara bimbingan yang lengkap mengenai semua kebajikan-kebajikan.  Tuhan membantu barangsiapa yang membantu diri mereka sendiri dan terserah kepada kita – dengan bantuan Tuhan – untuk mengembangkannya dalam diri kita sendiri.

Yang dikatakan sifat  moral ialah pengendalian dan pengaturan sewajarnya tentang pikiran dan kelakuan, sesuai dengan ajaran Islam.  Umpamanya cinta menjadi sifat moral bila dinyatakan dengan benar dan pada saat yang tepat; jika tidak demikian maka cinta itu hanya suatu naluri atau disalurkan ke arah yang salah, maka ia bukanlah suatu contoh kebajikan.  Kecintaan dan penjagaan yang diperlihatkan hewan-hewan terhadap anak-anak mereka adalah naluri dan karena itu ia bukanlah perbuatan kebajikan.

Jadi kecintaan hanya dianggap satu kebajikan bila itu dilakukan dalam batas-batas yang wajar dan diizinkan.  Si ibu yang mencurahkan cinta sebanyak-banyaknya kepada anaknya dan yang mengizinkannya berbuat dan memperoleh apa yang dimauinya, bukanlah menunjukkan sifat moral dari cinta; juga perbuatan seorang pria yang kabur dengan istri orang lain saking cintanya kepada perempuan itu bukanlah sifat moral.  Melakukan perbuatan yang betul  pada ketika-ketika yang tepat menimbulkan sifat yang moral.

Tingkat-tingkat kemajuan moral

Hadhrat Masih Mau’ud menjuruskan perhatian kita kepada tiga tingkat kemajuan moral bertalian dengan perlakuan kita terhadap orang-orang lain.  Tingkat pertama menghendaki kita supaya sekurang-kurangnya berlaku terhadap orang-orang lain sebagaimana mereka berlaku terhadap kita.  Kita harus membalas kebaikan dengan kebaikan.  Tingkat kedua menghendaki kita supaya membalas dengan perlakuan yang lebih baik dan kebaikan yang lebih besar dari pada yang kita terima; sedangkan tingkat ketiga menghendaki kita supaya berbakti dan berbuat baik kepada orang-orang tanpa berharap akan menerima barang suatunya sebagai balasan.   Malahan kita sekali-kali jangan menimbulkan kesan seakan-akan ia berutang budi kepada kita secara bagaimanapun.  Sikap berpikir secara ini harus dipupuk sampai tumbuh demikian jauhnya sehingga itu bekerja sebagai fitrah kedua, sebagaimana halnya cinta seorang ibu terhadap anaknya.

Sifat-sifat moral

Dalam sifat-sifat moral termasuk sejumlah besar sifat pribadi.  Di antaranya ialah penghargaan diri sendiri dan hormat terhadap orang lain, baik hati, simpati, kejujuran, pema’af, sederhana, kebersihan, satria, berani, ramah, mulia hati, sabar, tekun, ramah, tabah, dermawan, murah hati, sopan, suka menerima tamu, pengampun, adil, mawas diri, memuaskan, gembira, suka membantu, berterima kasih, menjaga kesucian, tenggang rasa, cinta tidak mementingkan diri sendiri dan banyak lain lagi yang dapat ditambahkan pada daftar ini.

Tak ada satu contoh kebajikan yang melebihi sifat dari Nabi Muhammad saw. Sajak-sajak berikut ini yang diambil dari syair yang ditulis Hadhrat Masih Mau’ud menonjolkan ketinggian akhlak Nabi Muhammad saw.

Betapa mulianya orang ini!

Betapa menariknya!

Bau nafasnya laksana bau wangi kembang-kembang.

Di mukanya terlihat Tuhan.

Demikianlah sifat-sifatnya, begitulah keadaanya

Itulah sebab ia dicintai.

Betul kebajikan-kebajikannya.

Menghendaki agar ia dicintai terpisah

Dari lain-lain semuanya.

Mudah ditemui, mulia, murah hati, sahabat orang bertaqwa.

Dan ia unggul dalam kesempurnaan,

Dan kemuliaan, keagungan dan kecantikan ruh.

Muhammad adalah makhuk paling baik.

Jiwa orang-orang mulia,

Pilihan dari yang terpilih.

Semua sifat mulia telah mencapai batas pada dirinya.

Karunia segenap masa telah mendapat tempat dalam dirinya.

Demi Tuhan, Muhammad pada tempat kedua sesudah Tuhan.

Dan hanya melaluinya saja kita bisa mencapai Tuhan.

Ia kebanggaan orang-orang saleh, orang-orang suci.

Ia kebanggaan orang-orang bertaqwa.

Ia mengungguli semua orang yang dimuliakan sebelumnya.

Betul, keutamaan adalah soal kebajikan, bukan soal waktu.

Saya sudah terangkan dari Al-Quran Suci bahwa pemupukan kebajikan-kebajikan Islam adalah tujuan kejadian kita dan oleh karena itu bodohlah kita kalau kita mengabaikan tujuan dari kejadian kita, karena kita akan menjadi orang-orang merugi dalam dua alam.  Memperkembangkan sifat-sifat moral adalah yang paling tinggi dan paling menghasilkan dari semua usaha.  Tak ada suatu pekerjaan lain di mana kita bisa memperoleh kepuasan dan keberuntungan yang lebih besar — bahkan juga tidak dalam penumpukan kekayaan besar.

Tujuan yang sungguh-sungguh

Syarat pertama yang diperlukan dalam usaha mencapai suatu tujuan ialah bahwa kita harus menaruh kehendak yang sungguh untuk mencapainya, jika tidak demikian kita tidak akan mencapai kemajuan yang agak besar.  Semangat adalah yang pokok.  Ia akan meluncurkan kita kepada tujuan kita, apa jua pun tujuan itu.  Oleh karena itu baiklah kita bersungguh-sungguh.

Al-Quran Suci menyebutkan beberapa orang yang menyatakan:

“Kami sungguh-sungguh ingin agar Tuhan memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang shalih” (5:85).

Orang-orang ini sungguh-sungguh ingin supaya menjadi muttaqi.  Mereka tidak bersikap tak peduli tentang itu; tidak pula mereka melahirkan keinginan yang lemah itu.  Mereka betul sungguh-sungguh menginginkan itu dan sebagai hasil dari semangat mereka untuk menjadi mutaqi mereka berhasil baik dan menjadi orang-orang yang menerima karunia dan rahmat Tuhan sebagimana dikemukakan ayat berikutnya:

“Maka Allah mengganjar mereka untuk apa yang mereka katakan, dengan taman-taman yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.  Mereka akan tinggal disana: itu adalah ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik” (5:86).

Marilah kita masuki jihad ini untuk mengembangkan dan memajukan sifat-sifat moral dalam diri kita dengan sungguh-sungguh dan dengan semangat, maka usaha kita akan mendatangkan buah, dikaruniai dan diberi ganjaran oleh Tuhan.

Do’a

Hal selanjutnya ialah persoalan do’a.  Masih Mau’ud a.s. berkata bahwa seorang adalah angkuh bila ia menempatkan kepercayaannya hanya pada kekuatannya sendiri dan tidak mengakui kemahakuasaan Tuhan.  Beliau menyatakan bahwa senjata beliau hanya shalat dan bahwa beliau menggantungkan segala suatunya pada bantuan Tuhan.  Adalah perlu sekali bahwa kita menggunakan shalat dan mencari bantuan Tuhan dalam usaha kita untuk mengembangkan sifat-sifat moral.  Shalat yang tulus ikhlas sendiri adalah suatu kebajikan seperti dikatakan dalam Al-Quran Suci:

“Dan sesungguhnya dzikir Tuhan adalah kebajikan yang paling besar” (29:46). Tuhan mengatakan kepada kita suatu faedah lain dari shalat dalam Al-Quran Suci:

“Sesungguhnya shalat mencegah orang dari kejahatan dan perbuatan munkar” (29:46).

Dalam masa segala boleh sekarang ini  kita memerlukan setiap gram tenaga kita untuk menangkis berbagai ragam godaan yang menyerbu kita dalam segala arah.  Tuhan mengatakan kepada kita bahwa jawaban untuk itu terletak pada shalat, maka itu langkah kita selanjutnya ialah memberikan perhatian lebih besar pada shalat.  Bukan saja kita harus melakukan shalat teratur setiap hari tetapi juga kita harus berdo’a untuk perlindungan terhadap bisikan syaitan Nabi Muhammad saw. Juga berbicara tentang mustajabnya do’a pada waktu-waktu penuh godaan Beliau bersabda: “Dan mengenai orang-orang saleh, bila bisikan syaitan menyerbu mereka, mereka mengenangkan Tuhan: dan lihatlah! mereka mulai menampak barang-barang dengan betul”.

Berfikir

Kini aku tiba pada suatu hal, yaitu pengendalian pikiran-pikiran kita, karena segala-galanya berasal dari padanya.  Ingin aku mengutip suatu perkataan dari Bybel: “Seperti seorang berfikir dalam hatinya begitulah ia.”

Penyelidikan imiyah telah menunjukkan suatu kenyataan dengan pasti bahwa seorang adalah seperti apa yang ia pikirkan dan ia menjadi apa yg ia pikirkan.  Ia adalah hasil dari pemikirannya.

Watak kita tidak lebih dari perwujudan pikiran-pikiran kita.  Kita membangun watak kita di atas fondasi pikiran-pikiran kita.  Kita mempunyai kekuatan untuk mengendalikan pikiran-pikiran kita dan dengan itu membina watak yang kita pilih sendiri, karena watak kita tidak lebih dari pantulan pikiran-pikiran kita.  Watak bejat tumbuh dari benih-benih pikiran bejat, sedangkan watak mulia tumbuh dari benih-benih pikiran mulia.  Hukum pengetahuan mental ini bekerja sama pastinya dengan hukum gaya tarik atau sesuatu hukum stabil lainnya dari alam ini.  Kita dapat menggunakannya untuk kepentingan kita sebesar-besarnya dalam usaha mengembangkan sifat-sifat moral, dengan jalan membuang dan menjauhkan pikiran-pikiran kotor dan merusak dari otak kita dan hanya memusatkan pada pikiran-pikiran baik.  Satu barang milik kita yang tidak dapat diambil dari kita oleh pemerintah manapun ialah kebebasan memilih dan mengendalikan pikiran-pikiran kita sendiri.

Sebagaimana penjaga kebun menjaga kebunnya supaya jangan ditumbuhi rumput-rumputan dan membiarkan tumbuh hanya kembang-kembang dan buah-buah yang dikehendakinya sendiri, demikian pula kita dapat memelihara kebun otak kita dengan membuang pikiran-pikiran yang tidak dikehendaki dan menanam hanya pikiran-pikiran mulia, murni dan baik yang akan tumbuh, berkecambah dan meronai watak kita dengan keraksian dan keindahannya.

Kita ingin menutup otak kita terhadap pikiran-pikiran bejat dan membuang pikiran-pikiran yang kebetulan dapat menyelusup ke dalam.  Islam mengajar kita supaya menjauhi hal-hal yang akan menetaskan kejahatan dan karena itu menjauhi ruang-ruang dansa dan tarian, tempat-tempat judi, kedai-kedai minuman keras, rumah-rumah pelacuran dan macam-macam hiburan hina.  Benda-benda lain yang harus dihindari ialah buku-buku novel berkulit kertas tipis bersifat cabul yang membanjiri kedai-kedai buku; majalah-majalah yang penuh dengan foto-foto wanita bugil dan kebanyakan filem yang dapat dilukiskan sebagai perbuatan syaitan.  Semua benda-benda ini adalah pekerjaan syaitan yang ditujukan untuk menghancurkan otak dengan pikiran-pikiran busuk.  Lebih jauh lagi kita harus menghindarkan semua pikiran tidak baik terhadap orang-orang lain, seperti kebencian, iri, tipuan, penghinaan, dengki, dendam dan lain-lain, karena sifat-sifat itu pada dasarnya busuk.  Al-Quran Suci bukan saja menyuruh kita menjauhi kejahatan, tetapi ia juga menyuruh kita bergaul dengan orang-orang saleh, karena dari mereka kita dapat memperoleh perbaikan moral.  Kita harus ingat bahwa kita bukan saja bertanggung jawab atas tindakan-tindakan kita terhadap Tuhan, tetapi juga atas pikiran-pikiran kita.  Kita membaca dalam Al-Quran Suci:

“Baik engkau lahirkan apa yang ada dalam hati dan otakmu atau engkau sembunyikan, Allah akan meminta pertanggungjawabanmu atas itu” (2:285).

Sebagai makhluk hampir-hampir tidak mungkin bagi kita untuk menutup otak kita sama sekali dari pikiran-pikiran jahat atau salah.  Dalam hal demikian kita disuruh membuang atau menindas pikiran-pikiran itu; dan melakukan hal itu sendiri adalah suatu amal saleh.  Nabi Muhammad saw bersabda :

“Jika pada seorang timbul suatu pikiran jahat tetapi ia menindasnya atau mengenyahkannya dari otaknya dan tidak bertindak sebagaimana dikehendaki pikiran itu, Tuhan akan mengaruniakan ganjaran baik kepadanya.”

Ketabahan

Tak pelak lagi jalan kesalihan tidak mudah ditempuh, karena ia licin dan mendaki.  Kita mudah tergelincir.  Walau demikian perjalanan  melalui itu adalah suatu perjalanan yang mengangkat derajat dan menggembirakan hati, yang berkelok-kelok melalui tamasya-tamasya dengan kegiuran-kegiuran ruhani.  Suatu barang berharga tidak dapat dicapai tanpa usaha, dan kebenaran ini berlaku pada pengembangan moral seperti yang berlaku juga pada sesuatu daya upaya lainnya.  Tanpa kepedihan tak akan dapat diperoleh ganjaran.  Sementara shalat adalah perlu maka di waktu itu pula kita harus melangkahkan kaki kita yang terbaik maju ke muka dan berusaha keras di jalan Allah.   Beberapa orang berdo’a untuk yang lebih banyak dari jumlah yang untuknya ia bersedia bekerja dan kemudian mereka heran mengapa do’a mereka tidak diterima.

Tujuan yang terbentang di depan kita ialah agar kita sehari demi sehari maju dalam pengembangan sifat-sifat moral.  Tak seorangpun ingin tetap statis.  Dikatakan bahwa kalau kita tidak maju ke depan maka kita mundur ke belakang.  Tujuan bajik yang kini ada dalam pikiran kita menghendaki usaha sendiri dan ketabahan.  Sebaiknyalah kalau ketika mati tentang kita dikatakan bahwa kita mati tengah mendaki jalan sifat-sifat moral.  Tuhan berfirman kepada kita dalam Al-Quran: “Allah beserta orang-orang yang sabar” (2:154).

Seperti telah saya katakan sifat-sifat moral tak dapat dimajukan tanpa usaha.  Kita perlu selalu melakukan pengawasan-diri, disiplin diri dan pengendalian diri.  Oleh karena kita makhluk manusia dan bukan malaikat kita takluk pada kelemahan dan mudah tersandung, dan kita melakukan kesalahan-kesalahan dari waktu ke waktu sebagimana kita juga banyak mempunyai godaan-godaan yang harus dilawan dan di atasi; tetapi kalau jiwa kita kuat kita tidak perlu cemas akan berhasilnya kita pada akhirnya.  Malahan setiap usaha kita untuk maju dalam pengembangan moral akan membawa kita naik ke langit dan sekalipun kita tidak dapat mencapai puncak-puncak yang kita inginkan tetapi kita telah menempuh jalan panjang taqwa yang menuju langit.  Tuhan berfirman dalam Al-Quran Suci bahwa meskipun kita tergelincir atau tersandung kita tidak boleh putus asa: “Wahai hamba-Ku yang melakukan pelanggaran terhadap jiwanya! Jangan putus asa tentang Rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.  Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Kasih”.

Hadhrat Khalifatul Masih II adalah pengarang dari buku Ahmadiyah atau Islam Sejati dimana beliau berkata: “Islam membebaskan manusia  dari putus asa dan mengatakan kepadanya bahwa sekalipun ia melakukan kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan ia dapat mencapai kesucian pikiran dan perbuatan yang merupakan tujuan manusia paling tinggi.  Dengan begitu ia mendorongnya supaya selalu berusaha mencapai kebajikan dan kesucian dan memungkinkannya pada akhirnya tiba pada tujuannya.”

William Gladstone – seorang bekas perdana menteri Inggeris pada masa Victoria – mengucapkan perkataan yang menarik ini: “Tak ada orang yang telah mencapai kebesaran dan kemuliaan kecuali melalui kekeliruan-kekeliruan banyak dan besar.”

Walaupun nabi-nabi Tuhan terkecuali dari pendapat ini oleh karena mereka sangat luar biasa baiknya dalam kehidupan mereka, namun pendapat itu adalah suatu kebenaran yang terbukti dalam kehidupan semua orang besar lainnya; jadi kalau kita sewaktu-waktu tergelincir dalam lebuh kebaikan kita tidak boleh susah benar, dan kita harus menguatkan diri kita dan berusaha supaya lebih bertekad lagi agar tidak membuat kesalahan-kesalahan semacam itu pula.

Dua ribu tahun lalu seorang penulis Romawi termasyur bernama Seneca menuliskan penilaian berikut ini tentang seorang yang bajik:  “Orang paling besar ialah ia yang memilih justru keputusan yang paling tidak tertaklukan; yang melawan godaan-godaan yang paling dahsyat dari dalam dan luar; yang memikul beban-beban paling berat dengan hati gembira; yang paling tenang dalam topan badai; yang paling tak kenal gentar terhadap ancaman gertak-gertak; yang kepercayaannya pada kebenaran, pada kebajikan, dan pada Tuhan adalah paling tidak goncang.

Kesederhanaan

Kesederhanaan adalah sifat baik dari kehidupan baik dan Nabi Muhammad saw. memperingatkan kita terhadap hidup mewah: “Awaslah terhadap hidup mewah karena sesungguhnya hamba-hamba Allah tak pernah hidup mewah.”

Hidup sederhana di jalan Allah akan mempoles dan mengkilapkan ruh karena sampai tingkat tertentu orang-orang terpisah dari perhiasan benda dari dunia ini.  Orang tidak mendambakan barang ini atau tidak menginginkan barang itu, sedangkan mereka yang menyenangi kemewahan tidak akan tenang pikirannya sebelum mereka menaruh yang paling bagus dari setiap barang.  Kata orang, adalah kebenaran bahwa orang-orang yang paling kaya ialah mereka yang paling sedikit mempunyai kebutuhan dan Al-Quran Suci mengatakan kepada kita bahwa barang kebutuhan yang paling baik ialah taqwa dan bukan kemewahan dunia ini.  Seorang manusia bajik sudah senang dengan yang sedikit dan tidak tertarik oleh hidup mewah.  Betul, kekayaan adalah suatu karunia dan ia tidak harus menghambat orang hidup sederhana, walaupun ia memang sering menghambat.

Hidup sederhana selalu merupakan cara hidup nabi-nabi Tuhan.  Nabi Muhammad saw. bisa memperoleh setiap macam hidup mewah yang beliau inginkan, tetapi beliau lebih suka menjalani kehidupan paling sederhana.

Kebiasaan-kebiasaan beliau sederhana.  Makanan beliau sederhana.   Pakaian beliau sederhana.  Rumah tangga beliau dan perabotnya juga sederhana.  Beliau biasa tidur di tikar kasar dan berbaring di lapik berira yang sering menimbulkan kesan pada kulit beliau.  Suatu kali seorang bertanya kepada beliau mengapa beliau berbaring pada tikar kasar semacam itu, sedangkan penguasa negara-negara lain menggunakan permadani halus dan bantal.  Beliau menyahut bahwa hal itu tidaklah menjadi barang persoalan, karena mereka memilih dunia ini sedangkan beliau memilih akhirat.

Di tahun 1934 Hadhrat Khalifatul Masih II melancarkan suatu rencana yang dinamai Tahrik Jadid.  Beliau berseru kepada anggota-anggota Jemaat Ahmadiyah supaya setiap tahun menyumbangkan sejumlah uang untuk digunakan buat membuka dan membiayai missi di negeri-negeri seberang lautan.  Iuran ini adalah disamping Canda Am biasa yang sedikitnya harus dibayar seperenam belas dari penghasilan kita.  Beliau juga meminta kepada orang-orang Ahmadi supaya sederhana.  Berapa instruksi beliau adalah:

1.       Makanan hendaklah satu macam saja.

2.       Hentikan menonton bioskop dan teater.

3.       Kurangi belanja untuk hiasan rumah.

4.       Kurangi perbelanjaan untuk pakaian.

5.       Kurangi belanja untuk hiasan badan.

6.      Jangan membeli barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan.

Khalifah kita yang sekarang ini juga berseru kepada anggota-anggota jemaat supaya hidup sederhana dan mengurangi  pengeluaran untuk pakaian dan barang perhiasan.  Dalam salah satu pidato beliau berkata:

“Ingin aku mengetok pintu setiap Ahmadi dan mulai berperang melawan kebiasaan-kebiasaan buruk.  Aku ingin berkata kepada mereka bahwa barang siapa yang tidak mau membuang kebiasaan-kebiasaan boros dan tidak memperbaiki dirinya sendiri, maka hendaklah ia mengetahui bahwa ia tidak berguna apa-apa bagi Tuhan, Rasul-Nya dan Jema’at kita dan oleh karena itu ia akan dilempar keluar dari Jema’at sebagaimana lalat dilempar ke luar dari susu.”

Masih Mauud a.s. juga menekankan nilai hidup sederhana.  Beliau bersabda :

“Jangan hidup berlebih-lebihan, wahai engkau yang mencintai kebesaran dan kesenangan dunia ini, camkan benarlah bahwa dunia bukanlah tempat abadi bagi manusia.”

“Hidup mewah dan bersenang-senang dengan benda-benda baik dari kehidupan kebendaan tidak mengandung jaminan langgeng.”

“Demi Tuhan, tinggalkanlah jalan kehidupan mewah dan gampang itu!  Sesungguhnya itu adalah jalan terkutuk; janganlah berkepentingan dengan kutukan ini  Kalau tidak begitu buanglah segala harapanmu akan memandang Tuhan.”

Faedah lain dari hidup sederhana ialah bahwa ia akan membawa orang dekat kepada orang-orang biasa dan miskin.  Orang-orang yang suka menjaga ukuran kehidupan yang tinggi sering memandang rendah terhadap si miskin dan tak ingin bercampur baur dengan mereka.  Dan mereka berbahagia dan senang berkunjung dan tinggal dengan kawan-kawan mereka yang kaya, dan mereka sedikitpun tidak ingin hendak berkunjung pada, jangankan akan tinggal bersama, saudara-saudara rohani mereka yang lebih miskin.

Memajukan sifat-sifat moral adalah suatu filsafat praktis dan bukanlah suatu yang hanya untuk didengarkan atau hanya untuk dikenangkan.  Itu adalah suatu yang harus diamalkan.  Memang ia adalah suatu pokok yang amat luas yang tentangnya dapat ditulis berjilid-jilid buku.  Yang kuuraikan hanya beberapa segi saja dari pokok yang luas ini.  Tujuanku ialah hendak membangunkan perhatian dan memperbesar dorongan dalam diri kita untuk memberikan perhatian yang lebih besar buat pengembangan sifat-sifat moral.  Aku hanya berdo’a mudah-mudahan benih-benih yang sudah kutebarkan di antara saudara-saudara jatuh di tanah subur dan tumbuh dan menghasilkan buah-buah bajik.  Amin.  Alhamdu lillahi rabbil alamiin.

0 Responses to “Mengembangkan Sifat-sifat Moral”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: