Arsip untuk Februari, 2009

“Sifat sangka buruk itu amatlah djahatnja”

MADJALAH BULANAN “Sinar – Islam”

-April 1962 Th. Ke –XII No.4

hal.1

———————

“Sifat sangka buruk itu amatlah djahatnja”

Permulaan kerusakan itu ialah apabila manusia mulai menaruh sjak dan menjangka buruk. Djika ia menjangka baik, ia diberi taufik untuk berbelandja didjalan Allah s.w.t. Akan tetapi apabila langkah pertamanja salah, maka tidak dapat diharapkan ia akan mentjapai tudjuan nja. Amat buruklah sifat sangka djahat itu, ia mendjadikan manusia ketinggalan dari berbagai kebaikan; sehingga achirnja terhadap Tuhan pun manusia mulai menjangka buruk”.

(Malfuzhat Djilid ke II halaman 107).

Iklan

“Kejaqinan”

MADJALAH BULANAN “Sinar – Islam”

-Mei 1952 Th. Ke –II No.2

hal.4

———————

“Kejaqinan”

Hai, orang-orang jang mentjari Allah s.w.t ! Pasanglah telingamu dan dengarkanlah, bahwa tiada suatu barang seperti “kejaqinan” jang dapat melepaskan dari dosa-dosa kamu. Kejakinan itu memberi kekuatan untuk berbuat kebaikan, djuga kejaqinan itulah jang mendjadikan kita asjiq jang sedjati kepada Allah s.w.t. Lanjutkan membaca ‘“Kejaqinan”’

Sembahjang Malam Tahadjdjud

MADJALAH BULANAN “Sinar – Islam”

-Maret 1958 Th. Ke –VIII No.3

hal.13-14

———————

Sabda Nabi Muhammad s.a.w.:

“An abi Hurairata, Qala ; Qala Rasulullahi s.a.w: Rahimallahu radjulan qama minallaili, fa shalla wa aiqazha imra’atahu fa shallat, wa in abat rasjsja fi wadjhihah maa. Rahimallahu imra’atan qamat minallaili fashallat wa aiqazhat zaudjaha fa shallafain aba rasjsjat fi wadjhihil maa. (Hadits Rawi Ibnu Madjah.)

Indonesianja ; Lanjutkan membaca ‘Sembahjang Malam Tahadjdjud’

Cara membuktikan adanya TUHAN

Ikha 1356 HS / Oktober 1977 No.10 – Th XLVI, hal.27-36

Oleh Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra – Khalifatul Masih II

Alih bahasa : Sukri Barmawi

Titik tolak dalam masalah agama adalah persoalan mengenai “ADANYA TUHAN”.  Tambahan pula persoalan itu merupakan dasar pokok bagi segala macam faham tentang akhlak atau budi pekerti, sebab kesusilaan membahas perkara “benar” atau “salah”, yang tidak akan timbul kecuali jika telah ditetapkan dahulu dan diperinci “tujuan” kehidupan manusia.  Memang jelas dan nyata, bahwa manusia mulai berangkat merantau tanpa gagasan mengenai “tujuan yang ingin dicapai”, tidak mungkin ada penilaian “benar” atau “salah”, “baik” atau “buruk” tentang jalan yang ditempuh. Lanjutkan membaca ‘Cara membuktikan adanya TUHAN’