Perjalananku Menuju Islam

Dia berkata jika aku dapat meyakinkannya tentang kebenaran agama Kristen dan keunggulannya atas agama Islam maka ia bersedia menerimanya.

dikutip dari majalah Sinar Islam bulan 1 Ikha 1363 HS/1 Oktober tahun 1984) No.10, hal. 28.

Oleh : Selma Mubaraka Khan


Aku dibesarkan di Yorkshire, Inggeris, anak tertua dari tiga bersaudara.

Kakekku dari pihakku adalah seorang pendeta Metodis, nenekku turut serta dalam berbagai kegiatan gereja.  Pada usia ke belasan tahun aku menjadi guru sekolah Minggu dan kadang-kadang aku menghadiri paduan suara gerejani akhir pekan ketika berumur kira-kira tujuh belas tahun.  Pada salah satu acara akhir pekan itu kami mendengar ceramah-ceramah dan menyaksikan pertunjukkan-pertunjukkan film tentang kegiatan misi Kristen di Afrika, di Lembah  Zembeezi.  Hal ini sangat menggugah perasaanku dan pada saat itu aku membuat serangkaian puisi yang kuberi judul

Bimbingan

Rohaniawan berseru kepada semua yang berada di sana

Kami memerlukan penolong-penolong, kami dibebani tugas pemeliharaan

Kami memerlukan juru rawat-juru rawat dan juga dokter-dokter.

Hatiku mulai remuk, aku tahu apa yang harus kulakukan lalu aku masuk ke kamarku dan berlutut dekat tempat tidurku

Dan kepada Maha Pencipta aku berkata lembut

Oh Tuhanku,beri aku petunjuk dan kuatkan pula.

Apa saja yang Kau suruh, itu aku akan kulakukan.

Keraguan dan kekhawatiranku segera akan lenyap.

Aku tahu apa gerangan yang akan difirmankan Tuhan-ku

Dia ingin agar aku dilatih sebagai juru rawat.

Kemudian pergi menolong penduduk Afrika yang menderita

Lalu pergilah, kami menunjukkan kepada mereka belas kasih dan cinta Kristen.

Mengajari mereka tentang Jesus Tuhan kami di langit.

Aku sadar bahwa aku penuh dosa dan kelemahan.

Tidak melayani Tuhan, namun aku akan mencari kekuatan

Dia dalam kearifan-Nya akan mengetahui kebutuhan besarku

Dan dari santapan rohani-Nya aku akan makan

Aku, demi ketaatan pada seruan Tuhan-ku ini,

Akan pergi dalam kasih dalam kasih dan membaktikan semua yang kumiliki.

Sebelumnya aku telah diberi tahu bahwa oleh karena aku menderita sakit asma dan eksim, aku tidak dapat memilih juru rawat sebagi profesiku.  Namun berkat dorongan keyakinan yang baru kuperoleh ini, aku melamar dan segera setelah lang tahunku yang kedelapan belas aku menjadi siswi perawat.  (Ahhamdulillah, kecenderunganku terhadap keluhan-keluhan di atas tidak pernah menimbulkan kesulitan-kesulitan selama latihanku).

Aku memilih tugas pada bagian perawatan gawat untuk tugas permulaan sebagai tenaga perawat yang memenuhi syarat.  Pada hari pertama, ketika sedang bertugas, aku bertemu dengan seorang dokter muda.  Dari pembicaraan aku mengetahui bahwa ia seorang Muslim Ahmadi, dan Aku merasa amat sayang bahwa seorang pemuda yang baik dan beragama seperti dia belum diperkenalkan dengan agama Kristen.  Betapa kurangnya ilmuku!  Ternyata ia jauh lebih pandai dibandingkan dengan aku.

Dia berkata jika aku dapat meyakinkannya tentang kebenaran agama Kristen dan keunggulannya atas agama Islam maka ia bersedia menerimanya.  Dia tahu betul bahwa hal itu adalah pekerjaan mustahil!  Namun demikian itu kulakukan dan dengan semangat missionaris aku melancarkan usaha mengobahnya berganti agama.  Sungguh aneh, yang terjadi sebailknya!

Mula-mula aku merengut dan kemudian marah karena begitu banyak pertanyaan-pertanyaan prinsipal yang tidak dapat aku jawab.  Aku tidak pernah mengerti tentang Trinitas, tetapi aku mengenyampingkannya sebagai hal tidak penting hingga saat itu.  Aku adalah anggota Perkumpulan Juru Rawat Kristen dan menghubungi seorang demi seorang dari tokoh-tokoh agama untuk memperoleh jawaban buat persolalan-persoalan ini.  Gereja Inggeris, Metodis, Katolik Romawi, Gereja Baptis, Bala Keselamatan.  Satu persatu kudatangi pemuka-pemuka dari semua gereja Kristen yang penting.  Tidak seorang pun dapat menjawab persoalan-persoalanku tentang Trinitas, ataupun penebusan dosa, dengan memuaskan.  Mereka hanya berkata, “Kami akan berdoa untuk anda, Suster.  Berimanlah dan percayalah.”  Aku kini menyadari bahwa keimananku terhadap agama Kristen telah luntur besar dan akibatnya aku sangat kesal dan marah.  Kupelajari buku-buku tentang agama Hindu, Budha dan kemudian Islam.  Buku saku yang berjudul Death on the Cross (“Kematian diatas Salib”) karya Mauvi Abul Ata Sahib menghancurkan harapanku yang terakhir untuk tetap setia kepada agama Kristen.  Aku mulai jujur terhadap diriku sendiri dan dalam hatiku aku telah menerima Islam.  Akan tetapi sesudah beberapa bulan baru aku dapat mengemukakan perasaanku kepada keluargaku.

Mereka sangat terkejut tetapi menolak mendiskusikan kepercayaan baruku.  Aku diberi tahu betapa akan marahnya kakekk-ku tercinta, seandainya beliau masih hidup.  Tetapi satu kenangan yang telah lama aku lupakan hingga saat itu, muncul kembali dan menjadi sumber hiburan bagiku.  Pada suatu hari ketika aku berumur 10 tahun aku ada bersama kakekku setelah beliau memberikan kebaktian petang di sebuah gereja kecil, ketika para anggota jemaat seperti biasanya dilakukan setelah kebaktian Minggu, memberikan segi-segi kotbah dan kuingat dengan jelas, seorang berkata, “Bila sekarang Jesus datang, aku tidak akan menolaknya seperti dilakukan orang-orang Yahudi.  Anggota jemaat lainnya menyebutkan seorang di India yang mendakwakan dirinya sebagai Al-masih yang dijanjikan dan anggota itu telah melahirkan ucapan-ucapan merendahkan.  Dengan tenang kakekku berkata  “Bagaimana kita bisa tahu bahwa pengakuanya tidak benar?”  Kenangan itu timbul kembali kepadaku justru pada saat ketika aku sangat membutuhkan suatu yang menenangkan dan aku rasa jika kakekku masih hidup beliau pasti akan mendukungku.

Aku melakukan bai’at resmi pada tahun terakhir dari kehidupan Hadhrat Khalifatul Masih II.  Beberapa bulan sesudah itu aku menikah dengan dokter muda yang telah memperkenalkanku dengan hikmah dan keindahan agama Islam.  Kemarahan dan keinginanku untuk membuktikan bahwa ia salah, kini berubah menjadi perasaan kasih sayang dan syukur.

Kini aku telah menjadi Muslim Ahmadi lebih dari setengah hidupku.  Kami dikaruniai empat anak manis dan Allah senantiasa memberkati kami dengan cara tidak terhitung.

Setelah menjadi seorang Muslim aku menulis lanjutan dari puisi “Bimbingan” yang kutulis sebagai seorang Kristen dan menamainya “Pembetulan”.  Ini mengungkapkan perasaanku dengan cara sebaik-baiknya.

Aku telah berlatih baik, namun kujumpai diriku

Terbenam dalam keraguan dan ketakutan mencekam

(Perubahan ini dalam beberapa tahun yang singkat!)

Pikiran-pikiran saling bertentangan dalam otakku

Tetapi Allah Mahaagung, Mahamurah dan Mahakasih

Dia tunjukkan kepadaku kebenaran-kebenaran yang tersembunyi

Aku hanya mengikuti, seperti yang disuruhkan

Si tuli dibuat mendengar kembali

Dan mata pengharapan, menggantikan cucuran air mata

Aku hanya berkelana dalam kegelapan

Terus menuju cahaya cemerlang matahari

Segala puji bagi Tuhan!  Dia membukakkan mataku

Melenyapkan semua keraguan kemunafikan

Dengan segala kerendahan aku hanya memohon

Dia membimbing dan mengampuni yang telah lalu

Hatiku dipenuhi rasa syukur

Dia memperhatikan seorang yang begitu kasar

Begitu penuh lubang-lubang, begitu penuh dosa

Tetapi dengan kasih sayang – Dia menuntunku

Kearah jalan yang harus aku daki

Bila aku akan mencapai kebahagiaan – kebahagiaan luhur. []


6 Responses to “Perjalananku Menuju Islam”


  1. 1 sukses 22 April, 2009 pukul 2:12 pm

    sangat bagus kisahnya

  2. 2 sukses 22 April, 2009 pukul 2:17 pm

    Islam memang membawa kebahagiaan

  3. 4 iman 8 Mei, 2009 pukul 1:51 pm

    luar biasa …

  4. 5 iman 28 Mei, 2009 pukul 11:45 am

    Subhanallah ….

  5. 6 mylovingislam 21 Maret, 2010 pukul 6:40 pm

    Blog bapak mendapatkan medali dari Cinta-Islam karena memuat artikel yang menumbuhkan kecintaan kepada Islam.

    Silakan tautkan medali tersebut ke blog Tuan.
    Medali bisa diambil dari:
    http://www.cinta-islam.web.id/component/content/article/32.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: