Assalamualaikum, waRohmatullahi waBarokatuhu,

Salam damai untuk negeriku tercinta indonesia!

Lebih dari setengah abad yang lalu ditengah masih terjajahnya negeri ini oleh pemerintahan hindia belanda, lahirlah sebuah majalah bernama ‘Sinar Islam’.

Sinar Islam adalah Majalah Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang terbit pertama kalinya di tahun 1932. Atas gagasan yang timbul dari beberapa pengikut jamaah islam ahmadiyah, agar seruan keindahan ajaran Islam lebih meluas di negeri ini, Dummy-number “Sinar Islam” pun terbitlah di bulan September 1932, dicetak di Percetakan van Velthuysen Weltevreden (Jakarta). Majalah ini dipimpin oleh “Commissie van Redaktie” beralamat di Def. v.d. Bosch 139 Weltevreden.

Nomor perkenalan dihantar oleh suatu “Pendahuluan” sepanjang satu setengah halaman. Sebagian kata pendahuluan itu adalah sebagai berikut, (dalam ejaan lama)

Sinar Islam ! Lahir kedoenia ini akan membawakan soeara-soeara dari “seseorang”, jang menjeroekan ketinggian agama Islam dari agama lain dan membawakan kebenaran akan perkataan-perkataan Rasoelnya, Nabi Moehammad s.a.w. Chataman-nabijin, penghoeloe dari segala nabi-nabi.  Sinar Islam adalah sebagai tempat perbantoean akan menolong menjiaarkan kebagoesan agama Islam; dengan Sinar Islam akan terkembang “sari” dan “isi” dari perkataan-perkataan Allah didalam Qoeran, jang mendjadi penoendjoek djalan bagi kita boeat doenia dan achirat.  Sinar Islam diterbitkan adalah semata-mata menolong membangoenkan “roh” dan “semangat” Islam pada zaman chalifah-chalifah Islam dizaman dahoeloe.  Sinar Islam adalah semata-mata akan membawakan soeara-soeara oentoek “perdamaian doenia”, membawakan soeara-soeara oentoek “Persatuan bangsa” dan tjinta pada tanah air” dan sekali-kali tidaklah akan menjahari permoesoehan satoe sama lain.  Sinar Islam diterbitkan boekanlah dalam waktoe jang dinamakan “sehat” dan “aman”, malahan dalam waktoe jang diseloeroeh doenia kelam kaboet di haroengi “sjetan malaise”, Bahkan Indonesia tiada ketinggalan.  Sinar Islam adalah sebagai tempat, jang siapa sadja dapat mengeloearkan pertimbangan-pertimbangannja terhadap Islam. Dan senantiasa kami menoenggoe akan fikiran-fikiran jang membawakan “keselamatan” dan “kesentosaan” bagi kita bersama.  Sinar Islam diterbitkan seolah-olah menjamboet segala soeara-soeara, jang diterbitkan oleh soerat-soerat chabar Indonesia ini.

Tambahan sebagai mempertahankan hak ke Islaman jang teroetama terhadap Islam di Padang kami menjeroekan pada pembatja: “Selidikilah dan periksalah pendirian kami”. – Agar pembatja mendjadi terang kami sadjikan azas dan haloean kami.

Dan djikalau masih koerang terang, boleh datang periksa sendiri atau dengan perantaraan soerat- menjoerat.

Pada penerbitan perdana Sinar Islam tidak menunjukkan siapa yang mengasuh dan bertanggung jawab terhadap isinya. Kata pendahuluan dari Dummy-nummer di tandatangani oleh Red. & Adm. Sinar Islam. Dalam kolom – redaksi hanya disebutkan alamatnya, Defansielijn van de Bosch, Batavia Centrum. Demikian pula artikel-artikel yang terdapat dalamnya hampir semuanya tanpa nama pengarang, kecuali sebuah dengan initial H (rupanya Hidayat, guru sekolah di Bogor). Edisi No.1/Oktober 1932 mulai menyebut nama penulis dari karangan-karangan, yakni R. Hidayat dan Asnah. Tetapi banyak karangan masih belum menunjukkan penulis. Mulai edisi Juni 1933 tercantum nama Hoofd Redacteur (Pemimpin Redaksi) yang pertama, Saleh S.A. Kemudian nama pemimpin redaksi ini diikuti oleh nama-nama R. Muhyiddin (lihat gambar disamping) , Maulwi Abdul Wahid H.A., Maulwi Malik Aziz Ahmad Khan, R. Ahmad Anwar, H.S. Yahya Pontoh dan Syafi R. Batuah.

Alamat permulaan dari Sinar Islam, Defansielijn van de Bosch, kebetulan melukiskan ciri atau sifatnya. Perkataan itu dapat diberi makna: Garis pertahanan terhadap hutan. Memang demikianlah yang dilakukan oleh majalah ini. Ia menjadi alat bertahan terhadap serangan-serangan dari musuh yang berhukum rimba. Sepanjang hidupnya Sinar Islam terpaksa melakukan pembelaan untuk ajaran Ahmadiyah atau Islam sejati terhadap pelbagai tuduhan, makian dan dusta yang dilontarkan oleh lawan-lawan.

Wassalamualaikum, waRohmatullahi waBarokatuhu,



%d blogger menyukai ini: