Archive Page 2

BUNG HATTA, Putra Utama Bangsa Indonesia

[] Sinar Islam bulan Ihsan 1359 HS/Juni tahun 1980) No.6 – Th XLVIII, hal. 40-46.

Mengenang Pribadi Besar, Sederhana, dan Jujur

BUNG HATTA  Putra Utama Bangsa Indonesia

oleh : Sayyid Shah Muhammad al-Jaelani – Mubaligh Ahmadiyah

Di dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rahman ayat 27 dan 28, Allah swt. berfirman: “Segala sesuatu di atas bumi akan binasa.  Dan yang akan tetap tinggal untuk selama-lamanya hanya Wujud Tuhan engkau, Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan”.

Sesuai dengan firman Allah di atas, seorang hamba Allah, Dr. Mohammad Hatta, telah berpulang ke Rahmatullah dengan tenang pada tanggal 14 Maret 1980.  Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.  Berita kemangkatannya bagaikan petir di siang hari bolong.  Itulah suratan takdir, bahwa setiap orang yang dilahirkan pasti akan mengalami saat ketika ia harus minum piala maut.  Dengan perasaan haru dan sedih, saya segera mengirimkan telegram menyatakan rasa dukacita dan belasungkawa kepada Ibu Rahmi Hatta atas musibah yang menimpa keluarganya. Lanjutkan membaca ‘BUNG HATTA, Putra Utama Bangsa Indonesia’

BUNG HATTA

Dalam halaman “TAFAKUR SUDUT (No.4 Syahadat 1359 HS, April 1980)”

Senja kala nan maha pahit.  Ini ditelan oleh 145 juta rakyat Indonesia pada Jum’at petang 14 Maret.  Mereka dikejutkan oleh berita stop press yang disiarkan radio/tv — Bung Hatta, Proklamator Kemedekaan Indonesia, Bekas Wakil Presiden Republik Indonesia sudah tutup usia!

Bahwa beliau sebelum itu berada dalam keadaan sakit, semua mereka tahu.  Tetapi bahwa kepergian beliau akan berlaku demikian cepat, adalah di luar dugaan.

Mereka masih mengharapkan bahwa beliau akan terus membimbing mereka, sekali pun lamanya tak dapat diperkirakan.  Tetapi harapan mereka putus.  Beliau tiba-tiba meninggalkan mereka, dipanggil Kembali Kepada Khaliknya.

Bersamaan dengan kegelapan senja yang datang menyelubungi mereka, hati mereka tertutup oleh kelam yang datang karena matahari nurani mereka telah tenggelam.

Demikian arti Bung Hatta bagi mereka dalam kehidupan bangsa dan negara.  Mereka hanya dapat mengucapkan:  Selamat jalan Bapakku!  Terimakasih yang tidak terhingga.

—–


“Sifat sangka buruk itu amatlah djahatnja”

MADJALAH BULANAN “Sinar – Islam”

-April 1962 Th. Ke –XII No.4

hal.1

———————

“Sifat sangka buruk itu amatlah djahatnja”

Permulaan kerusakan itu ialah apabila manusia mulai menaruh sjak dan menjangka buruk. Djika ia menjangka baik, ia diberi taufik untuk berbelandja didjalan Allah s.w.t. Akan tetapi apabila langkah pertamanja salah, maka tidak dapat diharapkan ia akan mentjapai tudjuan nja. Amat buruklah sifat sangka djahat itu, ia mendjadikan manusia ketinggalan dari berbagai kebaikan; sehingga achirnja terhadap Tuhan pun manusia mulai menjangka buruk”.

(Malfuzhat Djilid ke II halaman 107).

“Kejaqinan”

MADJALAH BULANAN “Sinar – Islam”

-Mei 1952 Th. Ke –II No.2

hal.4

———————

“Kejaqinan”

Hai, orang-orang jang mentjari Allah s.w.t ! Pasanglah telingamu dan dengarkanlah, bahwa tiada suatu barang seperti “kejaqinan” jang dapat melepaskan dari dosa-dosa kamu. Kejakinan itu memberi kekuatan untuk berbuat kebaikan, djuga kejaqinan itulah jang mendjadikan kita asjiq jang sedjati kepada Allah s.w.t. Lanjutkan membaca ‘“Kejaqinan”’

Sembahjang Malam Tahadjdjud

MADJALAH BULANAN “Sinar – Islam”

-Maret 1958 Th. Ke –VIII No.3

hal.13-14

———————

Sabda Nabi Muhammad s.a.w.:

“An abi Hurairata, Qala ; Qala Rasulullahi s.a.w: Rahimallahu radjulan qama minallaili, fa shalla wa aiqazha imra’atahu fa shallat, wa in abat rasjsja fi wadjhihah maa. Rahimallahu imra’atan qamat minallaili fashallat wa aiqazhat zaudjaha fa shallafain aba rasjsjat fi wadjhihil maa. (Hadits Rawi Ibnu Madjah.)

Indonesianja ; Lanjutkan membaca ‘Sembahjang Malam Tahadjdjud’

Cara membuktikan adanya TUHAN

Ikha 1356 HS / Oktober 1977 No.10 – Th XLVI, hal.27-36

Oleh Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra – Khalifatul Masih II

Alih bahasa : Sukri Barmawi

Titik tolak dalam masalah agama adalah persoalan mengenai “ADANYA TUHAN”.  Tambahan pula persoalan itu merupakan dasar pokok bagi segala macam faham tentang akhlak atau budi pekerti, sebab kesusilaan membahas perkara “benar” atau “salah”, yang tidak akan timbul kecuali jika telah ditetapkan dahulu dan diperinci “tujuan” kehidupan manusia.  Memang jelas dan nyata, bahwa manusia mulai berangkat merantau tanpa gagasan mengenai “tujuan yang ingin dicapai”, tidak mungkin ada penilaian “benar” atau “salah”, “baik” atau “buruk” tentang jalan yang ditempuh. Lanjutkan membaca ‘Cara membuktikan adanya TUHAN’

Mengembangkan Sifat-sifat Moral

“Ya Allah, pancarkanlah sinar ke dalam hati dan telingaku;

Pancarkanlah sinar pada mataku dan lidahku;

Pancarkanlah sinar di sisi kananku dan di kiriku;

Pancarkanlah sinar di atasku dan di bawahku; Lingkupilah aku dengan cahaya-Mu.”

( Do’a Rasulullah saw. )

Lanjutkan membaca ‘Mengembangkan Sifat-sifat Moral’